Showing posts with label Jawapost. Show all posts
Showing posts with label Jawapost. Show all posts

Saturday, 24 February 2018

Negeri Praktik

PADA pengujung Mei 2016, empat anak kelas IV SD di Lamongan, Jawa Timur, nekat membakar seluruh rapor siswa kelasnya yang belum dibagikan gurunya. Mereka membakarnya di ruang kelas.
Alasannya, mereka kesal karena nilai-nilai yang tercantum di rapornya (mungkin) bakal jelek. Karena penasaran, saya googling untuk mencari informasi soal ini.
Rupanya itu bukan satu-satunya kasus. Di Gowa, Sulawesi Selatan, misalnya, ada tiga pelajar SMP yang membakar sekolahnya karena kesal dihukum gurunya. Tiga siswa tersebut kedapatan merokok.
Sang guru pun menghukum dengan tidak memperbolehkan mereka mengikuti pelajaran di kelas. Kesal oleh hukuman tersebut, sekitar pukul 3 dini hari, tiga siswa kelas IX itu membakar ruang guru.
Masih terkait dengan pembakaran sekolah, seorang siswa kelas V SD di Sukoharjo, Jawa Tengah, membakar kain gorden di ruang kelasnya. Api dengan segera membakar lemari dan buku-buku di dalam kelas tersebut.
Apa alasannya? Dia marah karena sering menjadi bahan olok-olok temannya.
Masih penasaran, saya lalu memperluas pencarian. Saya jadi ingin tahu kasus-kasus kriminalitas apa lagi yang melibatkan anak-anak.
Kali ini giliran saya yang mengurut dada dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarian. Hasil sementara yang saya dapatkan, ada cukup banyak kasus kriminalitas yang melibatkan anak-anak.
Pencurian, perampokan, hingga pemerkosaan dan bahkan pembunuhan. Semuanya, masya Allah, mengerikan.
Di Jakarta, tiga anak usia belasan tahun tega membunuh temannya, yang juga belasan tahun, dengan cara menggorok lehernya. Alasannya sederhana, karena korban kerap memaki-maki tiga temannya tersebut.
Baiklah, saya langsung masuk ke potret besarnya. Menurut data Komnas Perlindungan Anak (PA), pada 2013 saja ada 5.000-an anak yang mendekam di penjara karena berbagai kasus.
Sebagian sudah divonis bersalah. Saya jadi gelisah. Ada apa dengan anak-anak kita?
Si Kancil Anak Nakal
Saya percaya semua kasus tadi pasti tidak berdiri sendiri atau hanya disebabkan faktor tunggal. Pasti ada beberapa penyebab.
Misalnya, Kak Seto Mulyadi, yang ketika itu masih menjabat ketua Komnas PA, menilai di situ ada peran orang tua. Masih banyak orang tua di Indonesia yang tidak tahu bagaimana cara mendidik anak-anaknya (dan setahu saya belum ada sekolah untuk menjadi orang tua).
Maka, yang kita temukan, kalau melakukan kesalahan, si anak langsung dihukum. Bahkan dengan hukuman yang bersifat fisik.
Dijewer, ditampar, atau bahkan dipukul. Kalau di Jepang, bahkan ada yang ditinggal di hutan oleh orang tuanya.
Saya setuju bahwa cara-cara semacam itu sama sekali tidak mendidik. Hanya, sebagai orang yang bergerak dalam bidang pendidikan, sekaligus pemerhati masalah-masalah perubahan, perkenankan saya melihatnya dari sudut pandang lain.
Saya akan memulai dari lagu anak-anak terlebih dahulu. Pernah dengar lagu Si Kancil? Anda pasti hafal syairnya.
Begini salah satu petikannya. ”Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun…
Salahkah kalau anak-anak kita menafsirkan, barang siapa berbuat salah, segera dihukum? Jangan kasih ampun! Di mana ajaran belas kasihnya?
Jumlah lagu anak-anak di negeri kita sangat terbatas. Maka, tak heran kalau anak-anak kita pun menyanyikan lagu-lagu untuk orang dewasa.
Syair-syairnya malah lebih mengerikan. Mau tahu? Untuk soal ini, rasanya Anda lebih tahu ketimbang saya.
Sekolah Hidup
Di kota-kota besar, banyak orang tua yang berpikir, kalau anaknya pintar dan masuk ranking, urusan masa depannya beres. Celakanya, pintar di sekolah itu tidak sama dengan pintar dalam kehidupan.
Kalau Anda dulu sekolahnya pintar, lalu cari nafkah, bangun rumah tangga dan pergaulannya juga pintar, itulah anugerah. Tapi celakanya, jarang sekali kita temui orang yang sekolahnya pintar, hidupnya juga pintar.
Jadi, akhirnya harus saya katakan, istilah pintar itu hanya ada di sekolah. Namun, apalah artinya sekolah pintar kalau kehidupannya tak pintar?
Artinya tidak pandai menerjemahkan apa dalam kehidupan. Artinya lagi, kita belum bisa menyerahkan anak-anak kita kepada sekolahnya saja.
Tapi, nanti dulu, bukankah waktu anak-anak lebih banyak bersama keluarganya di rumah? Artinya, kita orang tua juga belum menerapkan cara mendidik anak yang benar.
Jangan-jangan cara mendidik yang baik itu bukan memberi mereka les yang banyak agar nilai sekolahnya bagus, diterima di sekolah unggulan, masuk fakultas top, ranking, beasiswa, dan seterusnya.
Jangan-jangan anak kita kurang diajak bicara, diajak bermain, berlibur, berkegiatan sosial, dan seterusnya. Jangan-jangan waktu berlibur itu kitalah yang asyik berlibur, bukan mereka.
Banyak orang tua yang terkecoh dengan judul-judul mata pelajaran. Faktanya, sekolah kita masih belum banyak mendidik, baru memindahkan isi buku ke dalam kertas.
Masih kurang melatih otot dan tindakan. Contohnya adalah mata pelajaran budi pekerti yang mulai diajarkan kembali.
Jadi, selama beberapa jam dalam sehari, beberapa hari dalam seminggu, dan beberapa minggu dalam sebulan, serta beberapa bulan dalam setahun, anak-anak kita belajar dan menghafal pelajaran soal budi pekerti agar memperoleh nilai ulangan atau ujian yang baik. Bukan agar mereka benar-benar memiliki perilaku yang baik.
Buat saya, ini ”pemborosan waktu” yang luar biasa! Kita menanam, tetapi tidak menuai hasilnya.
Maka, tak heran kalau kita pada jauh hari kemudian memanen dampaknya. Setidak-tidaknya itu bisa kita lihat saja pada kasus-kasus kriminalitas yang melibatkan mereka, sebagaimana saya paparkan tadi.
Dulu, semasa kecil, saya diajari untuk menaruh hormat kepada guru. Bahkan, naik sepeda pun berhenti dan turun menyapa pak guru yang ada di depan kita.
Coba lihatlah apa yang terjadi sekarang? Jangankan berhenti, mereka malah menyerobot jalan. Jadi salah siapa? Yang mendidik atau yang dididik?
Kita juga memandang sekolah sebagai lembaga yang berwibawa. Di sana tempat kita belajar. Maka, ketika ada siswa –SD dan SMP pula– yang berani membakar sekolahnya, ini sungguh membuat saya terkejut sekaligus gelisah.
Rasanya sudah waktunya kita mengubah orientasi pendidikan anak-anak kita dari sekadar tahu menjadi menjalankan. Bukan hanya untuk pendidikan budi pekerti, tetapi juga untuk mata pelajaran lainnya. Ini bukan negeri teoretis, ini negeri praktik. (*)
(@Rhenald_Kasali)

Gallery Mindset Daffa

Kisah bocah berusia 9 tahun yang mendadak jadi terkenal dari Semarang mungkin sudah kita baca. Kamera netizen yang dibidik dari sebuah mobil di jalan raya menangkap momen itu. 
Daffa dengan keukeuh menyetop sepeda motor yang dikendarai orang dewasa di atas trotoar dengan sepeda kanak-kanaknya.
Ini bukan soal cerita itu. Tetapi, menarik diikuti cerita wartawan yang kemudian datang ke rumahnya untuk melakukan wawancara (Detik, 19 April 2016). 
Media online tersebut menulis: Mengetahui wartawan datang, Senin 18/4, Daffa sumringah dan mau diwawancara. Saking antusiasnya, ia bahkan berlari masuk rumah dan keluar lagi memakai kaos bermotif garis-garis seperti pada foto yang tersebar. ’’Saya pakai ini waktu itu,’’ katanya.
Sulit saya bayangkan pada masa kecil saya dulu, anak usia 9 tahun sudah sadar kamera seperti Daffa. Pakaian yang menandakan dirinya seakan menjadi brand identity yang penting bagi personal Daffa. Itu mengalir otentik, tidak dibuat-buat seperti para selebriti.
Camera Branding
Minggu lalu di Mal Gandaria City, Jakarta, malam Minggu, ribuan orang datang untuk berfoto-foto. Ini agak aneh juga bagi generasi saya.
Kali ini mereka ingin berfoto bersama polisi. Ya, polisi Republik Indonesia. Bukan dengan polantas yang belakangan sering menampilkan gadis-gadis cantik seperti Briptu Dara atau Briptu Olivia.
Juga bukan polteng (polisi ganteng) Bripda Saeful Bachri yang sudah ramai di media sosial atau Briptu Norman Kamaru yang pernah mendadak terkenal karena menyanyikan lagu India.
Kali ini polisi yang ingin mereka temui adalah reserse atau dari unit reskrim. Pangkatnya senior pula, kombes. Ini sehubungan dengan pameran kepolisian. Yang menjadi bintang memang reskrim dan tokohnya adalah KM (Krishna Murti).
Sebelumnya, saya perlu menjelaskan kepada Anda bahwa mengurus reserse itu amat rumit. Maklum, pekerjaannya berurusan dengan kriminalitas dan banyak liku-liku rahasia. Bukan rahasia lagi, banyak pula polisi nakal.
Sementara unit lantas lebih dulu memperbaiki layanannya. Tentang hal itu, Kapolri Bambang Hendarso semasa menjabat dulu amat sering berpesan kepada saya bagaimana kita memperbaiki citra unit reskrim. Ini benar-benar rumit.
Kita kembali ke KM yang belakangan sering muncul di televisi menyusul kasus-kasus besar yang ditanganinya, mulai racun sianida di cangkir kopi yang mematikan Mirna, pertarungan melawan preman di Kalijodo, bom Thamrin, sampai peristiwa mutilasi seorang perempuan hamil.
KM adalah peserta Sespimti (Sekolah Pimpinan Tertinggi) Polri 2014. Dia menjadi ketua kelasnya saat saya mengajar di sana tahun itu. Dia menelepon saya dan minta diulas dalam sebuah talk show di mal itu. 
’’Saya murid Prof, waktu kami diajar transformasi, change, dan camera branding,’’ ujarnya.
Saya agak tertegun mendengar ceritanya karena dia mengaku melahap habis buku Camera Branding yang saya tulis dua tahun lalu. Dan apa yang dia terapkan dewasa ini adalah penerapan dari bacaan-bacaan wajibnya selama sekolah, termasuk buku itu.
Tetapi, ilmu tersebut menjadi hidup di tangan KM karena dia pernah menjadi kepala polisi di markas PBB di New York.
Di sana itulah KM menyaksikan contoh-contoh yang sering saya ulas. Dia berpikir, polisi akan sulit dihormati di sini kalau pakaian seragamnya mengesankan amat berjarak dengan masyarakat. Apalagi penampilannya menyeramkan.
’’Maka sekembalinya saya ke reskrim, saya dandani anak-anak buah saya. Pakai kaus biru tua bertulisan Turn Back Crime. Celananya cokelat khaki. Polisi harus keren. Sepatunya kets putih krem,’’ ujarnya.
Saya tahu KM tidak ingin nampang. Tetapi, dia tahu persis bahwa generasinya berada di tengah-tengah peradaban kamera. Masyarakatnya juga tambah pintar.
Lihat saja bagaimana anak-anak muda bergaya di depan kamera. Apakah itu di ujung batu puncak gunung (yang berakibat Anda jatuh ke mulut kawah), naik sepeda motor di dasar laut, atau ketemu sosok yang spesial di jalan. Bahkan, makanan atau menu buka puasa saja dipotret dulu, baru doa dibaca.
Pokoknya foto, edit, upload! Rasanya sudah keren. Lalu, kini peradaban video pun berkembang. Mulai Instagram, Snapchat, sampai Boomerang. Sudah begitu, mereka amat kritis. Akses pada pengetahuan dan kebenaran terbuka luas. Maka dia pun berujar, ’’Pengungkapan sebuah kasus harus pakai science.’’
Hal itu tampak ketika reskrim Polda Metro mengungkap pembunuh Mirna. Mungkin KM masih ingat pesan saya, masyarakat sudah belajar dari serial film di Fox Channel, CSI (Crime Scene Investigation) atau Criminal Minds. Keduanya sarat metode ilmiah. Labnya pun amat canggih. 
Dunia Komersial pun Berubah
Hal itu mengakibatkan cara pandang manusia benar-benar berubah. Cara manusia Indonesia mengevaluasi lembaga pemerintah dan merek-merek komersial juga berubah. Cara mengomersialkan produk melalui orang juga berubah.
Di dalam buku Camera Branding, saya menjelaskan karakter dasar yang perlu dibangun: authentics, gallery mindset, intangibles, flavor, connected and meaningful.
Manusia menjadi merasa ’’dekat’’ hanya kalau mereka bisa mengapresiasi sesuatu, dan sesuatu itu berhubungan dengan benda hidup, yang dapat mereka akses, foto-foto dengan mereka, dan tentu saja harus authentics.
Jadi, bukan yang terkesan semu, paksa, asal tampil, atau dapat menimbulkan kesadaran komersial. Tetapi, yang terpenting, selain authentics, para eksekutif perlu lebih dulu memiliki kesadaran gallery mindset. 
Anda tengah berada di era disruption. Bahkan strategi Anda harus didasarkan pada ide-ide itu kalau tak mau ditinggalkan pasar. Ingat, perubahan abad ini menyandang 3S: speed, surprise, dan shifting. 
Jadi, Daffa, KM, atau bahkan Justin Bieber, Briptu Dara, malahan juga Joko Widodo, Ahok, Haji Lulung, Ruhut Sitompul, Risma, Kang Emil, Kang Yoto, dan tokoh-tokoh publik lainnya sudah ada di sana. 
Demikian juga Bukalapak.com, KitaBisa.com, Uber, Grab, Go-Jek, Coke, dan Raja Ampat. Semua bergaya meng-expose Camera Branding secara authentic. Selamat bereksplorasi!