Showing posts with label MD. Show all posts
Showing posts with label MD. Show all posts

Monday, 26 October 2015

Melihat Benturan Muhammadiyah dengan PKS

Sekitar satu bulan sebelum gempa Yogyakarta (Mei 2006), Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga seperti mendapatkan ‘gempa’ permulaan, akibat pengajuan salah satu judul skripsi yang terlalu ‘berani’. Judulnya, Pengaruh Strategi Dakwah PKS Terhadap Muhammadiyah. Selain judulnya yang sensitif, diramalkan skripsi ini juga akan sulit terselesaikan karena objek penelitiannya akan menjadi sangat subjektif. Setelah beberapa kali bolak-balik menanyakan kabar proposal tersebut, akhirnya dapat jawaban juga. Disetujui di bawah bimbingan Kepala Jurusan langsung! Waduh!

Dalam satu kesempatan sang Kajur menyampaikan bahwa beberapa dosen enggan menjadi pembimbing karena judulnya berkaitan dengan hal yang sensitif. Beberapa hari kemudian Gempa melanda Yogyakarta, dan perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga pun diliburkan selama kurang lebih tiga bulan. Alhamdulillah....

Akibat dari libur yang terlalu lama, membuat saya khilangan gairah. Ah..... Baiklah, segera ke inti kajian yang saya temukan dalam penelitian, karena terlalu panjang maka hanya akan saya kutipkan sebagian saja.

Kehadiran PKS memiliki implikasi yang kompleks terhadap gerakan Muhammadaiyah di Kecamatan Minggir. Di satu sisi kehadiran PKS telah mengubah gerak Muhammadiyah yang statis dan monoton menjadi lebih dinamis dan kreatif. Di sisi lain kehadiran PKS telah mengubah konsentrasi dakwah umat yang selama ini digarap Muhammadiyah menjadi terpecah. Penyusutan jumlah kader potensial di Muhammadiyah juga menjadi imbas dari kehadiran PKS. Secara umum PKS telah memberi warna baru dan perubahan-perubahan bagi Muhammadiyah dalam berbagai segi di antaranya:

Struktur Organisasi
Kehadiran PKS yang juga melakukan berbagai aktifitas dakwah telah menarik kader-kader Muhammadiyah untuk ikut bergabung dengan alasan-alasan yang bemacam-macam. Baik bersifat umum sampai yang bersifat personal. Sebagian kader tersebut yang duduk di struktur organisasi cabang maupun ranting kemudian hijrah ke PKS umumya juga menjadi kader-kader tumpuan. Sehingga mereka juga dipercaya duduk dalam kepengurusan DPC PKS.

Kondisi ini secara otomatis menjadikan secara struktural terjadi dua kemungkinan, pertama, kader yang hijrah tersebut konsen ke PKS dan meninggalkan Muhammadiyah, kemudian ada pula ynag masih menjalani dua aktifitas sekaligus yakni di PKS dan Muhammadiyah. Ini mengakibatkan terjadinya ketidakefektifan dalam pelaksanaan program. Serta kemungkinan berkurangnya kader-kader potensial di tubuh Muhammdiyah.

Hal yang paling nyata dan bisa dirasakan adalah berkurangnya jumlah anggota pimpinan yang hadir pada setiap rapat rutin untuk menggodok serta mengevaluasi jalannya organisasi yang dilaksanakan setiap bulan.

Secara mencolok, perubahan ini terlihat dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyah. Sedangkan di Muhammadiyah dan ‘Aisyiah dampak ini masih belum signifikan. Mengingat gerak langkah PKS memang sasaran utamanya adalah pemuda dengan acara yang bernuansa kepemudaan. Meskipun demikian fenomena ini mendapat cukup perhatian dari Muhammadiyah, karena bagaimanapun juga PM dan NA akan menjadi penerus pergerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiah.

Penataan struktur organisasi pun terus dilakukan oleh Muhammadiyah dengan mengadakan koordinasi antara Muhamamdiyah dan Ortom yang lebih intensif, membangun komunikasi dan kerja sama yang lebih erat.

Kemudian mengenai munculnya TKIT dan SDIT yang dikelola oleh kader-kader PKS, secara struktural Muhammadiyah lalu menjalin kerja sama dengan kepala TK dan Kepala Sekolah dari tingkat desa sampai atas guna menjalin koordinasi, terutama mengenai penerimanan siswa baru setiap akan dimulainya tahun ajaran baru.

Sehingga kehadiran PKS telah mendorong semakin intens dan efektifnya struktur dalam Muhammadiyah untuk saling bahu membahu dalam memperkuat ketahanan Muhammadiyah ke depan. PKS di satu sisi menjadi rival namun di sisi lain juga menjadi pemacu yang membangunkan tidur panjang Muhammadiyah.

Pengaktifan masing-masing ranting dan majlis yang semula tidak berfungsi juga menjadi perhatian Muhammadiyah sebagai dampak gencarnya perkembangan dakwah PKS. Sekarang ini ranting-ranting mendapat perhatian lebih dalam penanaman kembali ideologi Muhammadiyah. Tokoh-tokoh cabang lebih aktif turun ke ranting untuk memberikan kajian-kajian dan ceramah-ceramah mengenai ideologi Muhammadiyah.

Secara struktural kini sekolah-sekolah Muhammadiyah benar-benar di bawah cabang. Cabang yang selama ini kurang memiliki taring, kini mengeluarkan jurus-jurusnya untuk menekan sekolah-sekolah Muhammadiyah lebih serius lagi dalam mendidik dan mempersiapkan  calon-calon kader Muhammadiyah. Baik secara kwantitas maupun kwalitas.

Dampak kehadiran PKS bagi Muhammadiyah secara struktural secara garis besar dapat disimpulkan.

Manajemen organisasi yang lemah dan berbagai aktifitas pimpinan yang padat mengakibakan selama ini Muhammadiyah tidak berjalan dengan maksimal. Pasca hadirnya PKS kehadiran ini di satu sisi telah membuat Muhammadiyah kehilangan banyak kader-kader aktif yang menginginkan perubahan namun tidak mendapatkannya di Muhammadiyah. Banyak kader-kader muda potensial yang kemudian lebih aktif di PKS. Hal ini telah disikapi oleh pimpinan. Imbasnya unsur-unsur pimpinan semakin memperkuat dan menata struktur organisasi  agar tidak roboh dengan menempuh berbagai langkah di antaranya:

a.    Mempererat kedekatan Cabang dengan ranting melalui forum-forum kajian yang melibatkan pimpinan cabang sebagai pembicara.
b.    Mengaktifkan kembali majlis-majlis yang selama ini kurang diperhatikan, terutama majlis dikdasmen dan majelis Wakaf dan ZIS.
c.    Melakukan koordinasi seara rutin dengan Kepala TK dan Sekolah-sekolah Muhammadiyah. Untuk memperlancar komunikasi dan pembinaan terhadap kader-kader yang mengelola amal usaha pendidikan.
d.    Membuat Kantor Cabang secara resmi sebagai bagian dari identitas Muhammadiyah sekaligus untuk mempermudah pelayanan kepada masyarakat.

Dan seterusnya.....
Kesimpulan yang saya ambil, dilihat dari sisi positif, kehadiran PKS bagi Muhammadiyah ibarat seorang pengendara honda astrea grand tahun 1994 list merah yang sedang mengendarai dengan santainya di jalan, tiba-tiba dari belakang ada motor honda C-70 mendahului dengan kecepatan penuh. Kontan saja pengendara astrea grand tersentak dan kemudian memacu kendaraannya agar tidak tertinggal. Dengan adanya pesaing baru, Muhammadiyah bisa benar-benar mengamalkan kalimat fastabiqul khairat!

Sumber
*) Penulis pernah menjadi sekretaris Ranting Pemuda Muhammadiyah Sendangagung Minggir.

Ini Kenapa Saya Benci PKS

@Mas Nuruddin :
:::: 1. Lha kan mereka temen2 fbku mas, jadi aku tau bahwa mereka itu ikhwan PKS :')Kenapa orang PKS mem-bully salafi? Karena sampai hari ini, Salafi lah yang paling gencar mengkritik PKS (dan juga gerakan lain). Bahkan, sejak dulu (jaman aku SMA), yang diserang salafi selalu IM. Kalo gak salah, sampe nyebut Qardhawi anjing-anjing neraka segala.

Karena mereka temenku juga, maka nama mereka disamarkan, soale kalo yang temenan ama FB mereka, pasti tau kan jadinya gak enak  
Sebelum memintaku husnudzan, mohon masnya husnudzan sama akuwh ya :').

Salah satu tanda masnya udah kena 'racun' mereka ya gitu tuh. Belain mereka apapun yang terjadi. Termasuk nyuruh orang husnudzan ke pks, nyuruh orang tabayyun, nyuruh orang memahami dan toleran ke pks, tanpa melakukan itu semua terlebih dulu. Bukan tidak mungkin, suatu saat bila ada perbedaan antara MD dan PKS, masnya akan cenderung melihat dari sisi PKS terlebih dulu.Mungkin masnya lebih banyak membaca "Buku PKS", "Majalah PKS", "website PKS", dan tulisan-tulisan orang PKS, daripada dari Buku MD, Majalah MD, dan tulisan orang MD sendiri. Secara politik, banyak yang pilihannya beralih dari PAN ke PKS. Secara edukasi, ada yang menyekolahkan anaknya ke SDIT, bukan ke SDM. Tidak dapat dipungkiri, inilah bukti bahwa racun mereka mulai menyebar.

Ada humor mas,
Dalam suatu pertemuan antara ormas Islam di Jakarta, seorang pengurus NU mengeluh kepada pengurus Muhammadiyah, "Warga NU sekarang lagi prihatin. Banyak masjid yang dulunya ada doa qunutnya sekarang tidak ada lagi. Yang dulunya ada tradisi tahlil, sekarang tidak ada lagi," katanya.Maksud hati ingin menyindir pengurus Muhammadiyah yang biasa shalat subuh tak pakai qunut dan tidak suka tahlil. Tapi pengurus Muhammdiyah malah berang. "Kalau NU cuma qunutnya yang dicuri. Kalau Muhammadiyah, masjid-masjidnya sekalian dibawa kabur orang," katanya.Kali ini pengurus NU dan Muhammadiyah satu hati kalau-kalau ada gerakan sistematik dari kelompok politik dan faham keagamaan tertentu yang merebut masjid-masjid untuk kepentingan tertentu. Itu humor muncul 2008, dan itulah yang nyata2 terjadi di masyarakat mas. Itulah kenapa MD gencar melakukan sertifikasi masjid dan AUM, langkah yang belakangan juga ditiru NU. MD juga sangat keras pada organisasi 'transnasional' gitu mas (Gak cuman PKS sih, tapi intinya ya itu tadi, PKS dan HTI). Paling panas adalah tahun 2006. Dulu, orang2 itu diberi 2 pilihan, kurang lebih gini, "Kalau kalian mau tetep di MD, tinggalkan organisasi yang lain. Kalo mau di tempat lain, silakan keluar dari sini." Malah ada surat keputusan resminya. Masnya bisa coba baca ini
:  HYPERLINK "http://" \t "_blank" http://ainspirasi.wordpress.com/2008/11/04/fatwa-muhammadiyah-tentang-pks/

Di sana disebut kata infiltrasi, PKS, dan yang semacamnya. Walau tidak secara langsung menyatakan bahwa PKS menyusupi MD, tapi ada pesan tersirat yang maksudnya demikian. Coba masnya googling "Muhammadiyah PKS", dan masnya akan bisa memahami dinamika yang terjadi. Tapi jangan malah baca yang sumbernya dari PKSnya mas, sama aja bo'ong kalo gitu, hehehe

Di luar sana, warga MD juga selalu dibikin bingung dengan kelakuan PKS yang seakan menarik MD kepada PKS. Ada orang-orang yang bersikeras bahwa PKS bukan MD (membela kemurnian MD), tapi ada juga yang terlalu "toleran". Ya, "terlalu toleran", penyakit paling kronis dari warga NU dan MD. Mereka terlalu toleran, dan terus ditekan untuk selalu demikian, hingga akhirnya mereka justru diterkam dan jadi korban :')

Salah satunya, ya mengenai masjid tadi. Di suatu daerah di Yogya, ada masjid yang mau dibuat plakat. Pengurusnya aplud di grup MD. Warga MD mendukung. Tapi ada oknum PKS yang menyebarkan racun, "Ngapain masjid dikasih plakat? Masjid kan milik umat. Gak usah dikasih plakat gituan." Sungguh Mas, mereka itu manis kata-katanya, tapi sangat beracun pada hakikatnya. Kenapa aku bilang gitu? Karena di Tegal, temenku pernah cerita bahwa masjid di perumahannya dimasuki orang2 PKS yang merupakan warga baru di sana. Saat mereka mulai menguasai, mereka pun semangat untuk mnegajak warga ke masjid. Tentu warga enggan karena amalan dan pengajaran di masjid itu menjadi berbeda dengan sebelumnya. Singkat cerita, Allah mengembalikan masjid itu kepada umat, sehingga kepengurusan pun diganti. Setelah itu, apa yang terjadi? Mereka yang dulu menyeru untuk pergi ke masjid, malah sekali pun tidak lagi ke masjid itu. Mereka lebih memilih shalat d tempat yang jauh.

Dari situ, bisa disimpulkan bahwa himbauan kader PKS pada MD utk tidak memberi plakat pada masjidnya juga dilatarbelakangi tujuan yang sama : pembajakan. Untunglah para kader MD di grup itu tidak mudah dibodohi. Mereka mengikuti perkembangan selama ini, termasuk mengetahui penyusupan PKS di tubuh MD. Mereka juga tau mengenai maklumat Muhammadiyah itu yg aku kasih linknya tadi.

Tegal dan Yogya terpisah ratusan km, tapi ada motif sama. Makanya aku gak mau capek-capek lagi menuliskan kata "oknum". Aku juga gak pernah membicarakan PKS sekadar dalam konteks politik, because there's something big, something strange about them. Dan kenyataan ini dirasakan bukan cuma olehku saja mas. Ini sudah jadi rahasia umum yang diketahui orang (tentunya yang tidak dalam pengaruh PKS)

Muhammadiyah itu baik mas. Memang sayang, banyak anak MD dan NU hilang arah, dan akhirnya ikut liqo'. Bukan mereka yg salah, tapi MD dan NU yg kurang bisa menyediakan 'sarana' yg memadai. Aku juga pernah ikut mentoring Mas :')

Itu yg bikin (awalnya) aku toleran ke mereka. Waktu aku mendapati temen - temen yang mau terjerumus ke Salafi, aku selalu sarankan mereka buat rajin ikutan mentoring. Waktu ada temenku yang terlalu "fanatik" NU dan MD, aku selalu sampaikan prinsip ala tarbiyah IM 'kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, dan saling toleran dalam hal yang tidak kita sepakati'. Hingga akhirnya konflik Mesir pasca - jatuhnya Mursi menyadarkanku mas.

Saat itu, terbukalah semua borok IM. Terutama saat mereka MENENTANG serta MENCACI MAKI DOSEN DAN ULAMA Al Azhar, institusi tertinggi dalam dunia Islam (Sunni). Sejak saat itu aku bertobat dari "kesalahan" masa laluku yang terlalu toleran pada IM/PKS.

Aku ndak pernah mempermasalahkan kader PKS yang korupsi, kader mereka yang mesum, dll. Memang, ada orang PKS yang akhirnya tidak suka PKS karena hal tsb. Tapi aku ndak peduli. Ketidaksukaanku ke PKS lebih karena hubungan mereka dengan IM, dan kelakuan IM yang sudah kurang ajar di Mesir sana. Sekelumit kekecewaanku di antaranya aku tuangkan di sini (monggo kalau berkenan baca)

Dalam The Muslim 500 pun sudah di bahas dalam "Issues of the Day" hal. 178 (The Fight for Azhar). Kalau mau baca versi Indonesia, masnya bisa baca di sini

Jadi, sekali lagi dipahami bahwa kita membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar PKS. Artinya, meski ada orang di PKS paling bersih pun, ya dia tetap IM, dan karena itu aku ndak suka. Meski ada orang yang keluar dari PKS (katanya untuk menyelamatkan gerbong dakwah), aku tetap ndak suka, karena hakikatnya mereka itu ya IM.

Sikap ini bukan cuma aku yang mengambil. Ustadz Sarwat, pengelola rumahfiqih.com juga demikian. Sedikit cerita, dulu, banyak jamaahnya yang orang PKS, sampai beliau (sampai sekarang) dijuluki ustadz PKS. Bahkan, dulu beliau juga aktif mengelola tanya-jawab di eramuslim.com. Ketika beliau kritis pada PKS, astaghfirullah, kelakuan jamaahnya itu seperti orang yang tak punya adab. Itulah bahayanya virus PKS.
Di Mesir, gelar Yusuf Qardhawi akan (atau malah sudah) dicabut oleh Al Azhar. Abdullah bin Bayyah, keluar dari organisasi Persatuan Ulama Internasional (organisasi bentukan Qardhawi - IM), padahal beliau tadinya menjabat wakil dan kemudian justru mendirikan organisasi baru, Dewan Ulama Islam. (Baca)

Kalangan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) juga memahami betul bahwa kader - kader PKS selalu berusaha menguasai mereka. Bahkan mereka nggak segan membuat page Info Mesir, dan yang semacamnya, padahal berita-berita di dalamnya hanya mengambil dari sisi IM saja. Mereka juga terus menerus memberikan imej bahwa Mesir dan Al Azhar adalah IM, demi menarik simpati masyarakat awam di Indonesia.

Jadi, dengan amat terpaksa, saran dari masnya harus aku kembalikan lagi tanpa mengubah satu huruf pun :
"saranku sh kl melihat sesuatu jgn subjektif jgn dr 1sudut pandang saja"

Apalagi dari sudut pandang yang jelas keliru dan penuh racun dari mereka.

:::: 2. Golongan "itu" yang dimaksud itu syi'ah pok mas? Masnya baca dari link yang aku kasih kan? Bener mas, itu biar bombastis aja, menarik perhatian massa walaupun mungkin ada beberapa oknum yang beneran syi'ah juga.

Aku juga udah tuliskan di situ, di komentar sebelumnya, bahwa tujuanku bikin postingan itu :
a. Buat nyindir mereka [IM] yang selama ini sok-sok anti-Syi'ah, eh ternyata "Nabi"-nya [Morsi] malah main mata ama Syi'ah [Iran] 
b. Makin menguatkan keyakinan kita akan goyahnya akidah dan keyakinan mereka.
c. Mengungkap kemunafikan dan standar ganda mereka.
d. Terus memperingatkan semua pihak agar tidak berlaku naif (terlalu toleran kepada pihak-pihak yang intoleran).

:::: 3. Demikianlah mas, sekelumit jawabanku. Tentu ini belum semuanya. Semua ini aku dapetnya juga gak instan, melainkan butuh waktu dan perjalanan yang penjang. Karenanya, aku juga ndak memaksa masnya buat sadar secepat kilat.
Tambahan : mereka lah (bersama HTI dan Salafi) menjadi pihak yang merusak hubungan NU-MD yang sudah mulai mesra selama 20 tahun ini. Kenapa? Karena oknum mereka kadang dengan mudahnya mengangkat isu-isu khilafiyah. Ketika warga NU resah, MD juga lah yang kena. Karena dilihat dari kacamata NU, ya MD, PKS, dll itu sama saja. Dan kenyataannya memang masyarakat masih sulit membedakan satu per satu. Buktinya masnya ikut mentoring mereka, aku juga. Maka kita tidak heran jikalau hari ini perdebatan yang sudah 20 tahun ditinggalkan, kini mulai diangkat lagi :')

Karenanya, kalau mereka musnah, tentunya kita berharap hubungan mesra yang sejati dapat kembali terjalin. Maka apa yang orang bilang, bahwa "Kalau masalah NU-MD sudah selesai, maka sebagian masalah bangsa ini juga selesai", semoga ada benarnya.

Dan aku rasa tidaklah berlebihan kalau aku selalu sarankan teman-teman untuk simply pilih NU dan/atau Muhammadiyah. Bukannya yang lain pasti sesat atau apa, tapi 2 inilah yang paling terjamin track recordnya, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Karena itu mas, mari kembali ke Muhammadiyah. Masnya nggak perlu lagi menyembah Mursi dan me-nabi-kan LHI. Kita kembali pada ajaran Islam, agama penyeru Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad... 

Kalo masnya mau sharing cerita, mungkin @Rauf bisa bantu. Dia Muhammadiyah, ikut mentoring, tapi sudah menemukan arah. Masnya nggak sendirian. Ada banyak teman2 yang struggle untuk keluar dari "candu" PKS. Semoga berhasil mas. Kalo udah berhasil, jangan sungkan membantu menyadarkan korban - korban lain yang masih saja kecanduan ~
Sekali lagi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan Mas...
Sungguh Allah Maha Pemberi Taufik, tunjukilah kami pada jalan-jalan yang terbaik...
Aamiin

Oleh : Muntazal Admi
Sumber

Thursday, 22 October 2015

MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)

Bagaimanapun, di Negeri ini Muhammadiyah (MD) dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah dua organisasi terbesar. Dan nyatanya perbedaan diantara kedua adalah yang paling panjang. Artikel ini adalah secuil pandangan. Pembahasan lebih lengkapnya, bisa di tinjau dalam Fiqih Ilktilafiah NU dan MD. Silahkan disimak, semoga bermanfaat.

***

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.
Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).
Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:

1. Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya. 
2. Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3. Baca doa Qunut Shubuh.
4. Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5. Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6. Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7. Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.
Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.
Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?
Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.
Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada. (Diedit ulang dari tulisan Ustadz Sulaiman Timun Mas).

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 25 Juni 2014

Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Sumber 4
Sumber 5