Showing posts with label PKS. Show all posts
Showing posts with label PKS. Show all posts

Friday, 30 October 2015

Ada Apa Dengan NU dan PKS

Ditulis oleh : Generasi Muda NU
Sumber
***

Beberapa hari yang lalu secara tak sengaja saya membaca postingannya salah seorang Intelektual Muda NU yakni Gus Rijal Pakne Avisa ( Rijal Mumazik Zionis ). Dimana dalam postingan tersebut beliau menceritakan tentang “pertempuran” dua orang santri yang berbeda pilihan terkait dengan capres cawapres kali ini. Parahnya lagi kedua santri ini sama-sama membawa bawa nama gurunya untuk melegitimasi pilihannya, padahal guru dari kedua santri ini bersikap netral alias tidak mendukung pihak manapun.

Tentu apa yg di sampaikan oleh Gus Rijal diatas bukanlah hal yg bersifat kasuistik saja, justru saya melihat bahwa paparan beliau ini merupakan cerminan dari kondisi kaum Nahdliyyin saat ini yg juga saling gontok – gontokkan gara-gara terlalu euphoria dan latah dalam mendukung salah satu calon. Bagi kami mendukung salah satu pasangan itu boleh bahkan mungkin harus, namun menghargai pilihan saudara kita juga wajib, sehingga meskipun kita berbeda pilihan namun persatuan tetap bisa terjaga dan tentunya tidak membuat kita saling berpecah belah.

Yah itulah dunia politik praktis yang sering dikatakan orang sebagai dunia yangg keras, panas dan kejam, bahkan salah seorang pengamat politik dan budayawan Bekasi Komaruddin ibnu Mikam pernah mengatakan bahwa dalam politik itu hanya ada dua opsi, berani membunuh atau rela di bunuh. Itu pula yg sering kami saksikan dalam dunia politik praktis di Indonesia, dimana kebohongan, kelicikan, menjegal orang lain, inkonsisten dll sudah dianggap sebagai hal yg biasa. Sebaliknya obyekstifitas, sportifitas dan nalar sehat pun menjadi tumpul kalau sudah berada dalam kubangan lumpur politik praktis. Dalam politik dalam membela parpol maupun tokohnya bukan berdasarkan kebenaran, namun atas dasar fanatisme belaka.

Sebagai contoh pada postingan kami kemarin yg menyoroti salah satu parpol pendukung pasangan tertentu, beragam komentar pun datang dan mengalir dengan deras, baik yang pro dengan postingan admin maupun yang kontra. Bagi kami pro kontra dalam sebuah hal itu adalah hal yg biasa, asalkan argumen yg dibangun memiliki dasar yang bisa dipertanggung jawabkan, dan bukan hanya sekedar pembelaan yang membabi buta. Dari beragam komentar yg kontra dengan postingan admin kemaren, minimal ada dua hal yg menurut saya layak untuk saya kemukakan disini.

1. Komentator yg kontra dg admin sepertinya sengaja mencari –cari alasan untuk bisa menyerang admin dengan membelokkan subtansi postingan kearah lain sehingga mereka solah-olah menemukan alasan kuat guna menyerang admin. Dalam postingan kemarin sudah berulang kali admin menegaskan baik dalam prolog maupun epilog postingan, bahwa admin tidak memihak pasangan manapun dan bahwa postingan tersebut BUKAN SEDANG MEMBICARAKAN soal pasangan capres dan cawapres manapun, tapi hanya menyoroti sikap salah satu partai pendukung koalisi semata. Namun mereka sengaja menggiring opini bahwa admin menyerang pasangan tertentu, padahal anggapan tersebut jelas bathil dan penuh rekayasa.
Bagi admin membicarakan salah satu parpol pendukung pasangan manapun tidak ada kaitannya dengan pasangan tersebut, karena kami sudah biasa melakukan kritik, terhadap parpol, ormas ,harokah dan gerakan - gerakan lainnya jauh sebelum musim pilpres. Kalaupun kami sekarang mengkritik salah satu parpol disaat musim pilpres, maka itu hanya kebetulan saja dan sama sekali tida ada nuansa politisnya.

2. Ada komentator yg mengklaim sebagai warga NU namun anehnya justru menyerang admin dan lebih membela PeKaeS. Akun-akun yg mengaku NU namun membela peKaeS ini pun mulai menyerang admin dengan berbagai cara, mulai mempertanyakan keNUan admin, menyindir kelakuan buruk admin, biang provoktif, skuler, liberal,hingga anggapan antek jokowi.

Coba teman - teman cermati dengan baik dan dengan hati jernih, sejak kapan warga Nahdliyyin lebih membela PeKaeS ketimbang teman - temannya sendiri sesama warga NU ? Padahal selama ini yg saya tau bahwa warga NU hingga kini masih tetap konsisten dalam menolak faham Wahhabi dan varian - variannya, atau yg berbau bau Wahhabi. Kalau apa yang di lakukan admin ini salah, OK lah kami bisa memaklumi, tapi sejauh ini kami masih berkeyakian bahwa apa yg kami lakukan masih dalam batas kewajaran, karena HANYA MENAGIH JANJI saja, ya MENAGIH JANJI agar PeKaeS konsisten dengan ucapannya. Lalu dimana letak kesalahan yg di lakukan admin ini ? Silahkan anda simpulkan sendiri siapa mereka ini sebenarnya.

Sekali lagi kepada teman-teman dan suadaraku Ummat Islam Khususnya warga Nahdliyyin, marilah kita jaga persatuan dan kesatuan, perbedaan pilihan jangan di jadikan alasan untuk berpecah belah, dan marilah kita berdoa semoga pemilu kali ini bisa menghasilkan pemimpin yg terbaik bagi bangsa, Negara dan agama ini.

Kami Generasi Muda NU berjanji akan menerima siapapun presiden terpilih nanti dengan ikhlas dan lapang dada. Bagi kami Pasangan capres dan cawapres yg ada saat ini adalah tokoh - tokoh terbaik anak bangsa ini yg sudah selayaknya kita dukung dan hormati bersama sama.
Sekali lagi, apapun pilihan kita, jangan sampai membuat kita bercerai berai, waspadai pihak2 luar yg berusahan memecah belah kesatuan kita. Salam Nahdliiyin.

Monday, 26 October 2015

Melihat Benturan Muhammadiyah dengan PKS

Sekitar satu bulan sebelum gempa Yogyakarta (Mei 2006), Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga seperti mendapatkan ‘gempa’ permulaan, akibat pengajuan salah satu judul skripsi yang terlalu ‘berani’. Judulnya, Pengaruh Strategi Dakwah PKS Terhadap Muhammadiyah. Selain judulnya yang sensitif, diramalkan skripsi ini juga akan sulit terselesaikan karena objek penelitiannya akan menjadi sangat subjektif. Setelah beberapa kali bolak-balik menanyakan kabar proposal tersebut, akhirnya dapat jawaban juga. Disetujui di bawah bimbingan Kepala Jurusan langsung! Waduh!

Dalam satu kesempatan sang Kajur menyampaikan bahwa beberapa dosen enggan menjadi pembimbing karena judulnya berkaitan dengan hal yang sensitif. Beberapa hari kemudian Gempa melanda Yogyakarta, dan perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga pun diliburkan selama kurang lebih tiga bulan. Alhamdulillah....

Akibat dari libur yang terlalu lama, membuat saya khilangan gairah. Ah..... Baiklah, segera ke inti kajian yang saya temukan dalam penelitian, karena terlalu panjang maka hanya akan saya kutipkan sebagian saja.

Kehadiran PKS memiliki implikasi yang kompleks terhadap gerakan Muhammadaiyah di Kecamatan Minggir. Di satu sisi kehadiran PKS telah mengubah gerak Muhammadiyah yang statis dan monoton menjadi lebih dinamis dan kreatif. Di sisi lain kehadiran PKS telah mengubah konsentrasi dakwah umat yang selama ini digarap Muhammadiyah menjadi terpecah. Penyusutan jumlah kader potensial di Muhammadiyah juga menjadi imbas dari kehadiran PKS. Secara umum PKS telah memberi warna baru dan perubahan-perubahan bagi Muhammadiyah dalam berbagai segi di antaranya:

Struktur Organisasi
Kehadiran PKS yang juga melakukan berbagai aktifitas dakwah telah menarik kader-kader Muhammadiyah untuk ikut bergabung dengan alasan-alasan yang bemacam-macam. Baik bersifat umum sampai yang bersifat personal. Sebagian kader tersebut yang duduk di struktur organisasi cabang maupun ranting kemudian hijrah ke PKS umumya juga menjadi kader-kader tumpuan. Sehingga mereka juga dipercaya duduk dalam kepengurusan DPC PKS.

Kondisi ini secara otomatis menjadikan secara struktural terjadi dua kemungkinan, pertama, kader yang hijrah tersebut konsen ke PKS dan meninggalkan Muhammadiyah, kemudian ada pula ynag masih menjalani dua aktifitas sekaligus yakni di PKS dan Muhammadiyah. Ini mengakibatkan terjadinya ketidakefektifan dalam pelaksanaan program. Serta kemungkinan berkurangnya kader-kader potensial di tubuh Muhammdiyah.

Hal yang paling nyata dan bisa dirasakan adalah berkurangnya jumlah anggota pimpinan yang hadir pada setiap rapat rutin untuk menggodok serta mengevaluasi jalannya organisasi yang dilaksanakan setiap bulan.

Secara mencolok, perubahan ini terlihat dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyah. Sedangkan di Muhammadiyah dan ‘Aisyiah dampak ini masih belum signifikan. Mengingat gerak langkah PKS memang sasaran utamanya adalah pemuda dengan acara yang bernuansa kepemudaan. Meskipun demikian fenomena ini mendapat cukup perhatian dari Muhammadiyah, karena bagaimanapun juga PM dan NA akan menjadi penerus pergerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiah.

Penataan struktur organisasi pun terus dilakukan oleh Muhammadiyah dengan mengadakan koordinasi antara Muhamamdiyah dan Ortom yang lebih intensif, membangun komunikasi dan kerja sama yang lebih erat.

Kemudian mengenai munculnya TKIT dan SDIT yang dikelola oleh kader-kader PKS, secara struktural Muhammadiyah lalu menjalin kerja sama dengan kepala TK dan Kepala Sekolah dari tingkat desa sampai atas guna menjalin koordinasi, terutama mengenai penerimanan siswa baru setiap akan dimulainya tahun ajaran baru.

Sehingga kehadiran PKS telah mendorong semakin intens dan efektifnya struktur dalam Muhammadiyah untuk saling bahu membahu dalam memperkuat ketahanan Muhammadiyah ke depan. PKS di satu sisi menjadi rival namun di sisi lain juga menjadi pemacu yang membangunkan tidur panjang Muhammadiyah.

Pengaktifan masing-masing ranting dan majlis yang semula tidak berfungsi juga menjadi perhatian Muhammadiyah sebagai dampak gencarnya perkembangan dakwah PKS. Sekarang ini ranting-ranting mendapat perhatian lebih dalam penanaman kembali ideologi Muhammadiyah. Tokoh-tokoh cabang lebih aktif turun ke ranting untuk memberikan kajian-kajian dan ceramah-ceramah mengenai ideologi Muhammadiyah.

Secara struktural kini sekolah-sekolah Muhammadiyah benar-benar di bawah cabang. Cabang yang selama ini kurang memiliki taring, kini mengeluarkan jurus-jurusnya untuk menekan sekolah-sekolah Muhammadiyah lebih serius lagi dalam mendidik dan mempersiapkan  calon-calon kader Muhammadiyah. Baik secara kwantitas maupun kwalitas.

Dampak kehadiran PKS bagi Muhammadiyah secara struktural secara garis besar dapat disimpulkan.

Manajemen organisasi yang lemah dan berbagai aktifitas pimpinan yang padat mengakibakan selama ini Muhammadiyah tidak berjalan dengan maksimal. Pasca hadirnya PKS kehadiran ini di satu sisi telah membuat Muhammadiyah kehilangan banyak kader-kader aktif yang menginginkan perubahan namun tidak mendapatkannya di Muhammadiyah. Banyak kader-kader muda potensial yang kemudian lebih aktif di PKS. Hal ini telah disikapi oleh pimpinan. Imbasnya unsur-unsur pimpinan semakin memperkuat dan menata struktur organisasi  agar tidak roboh dengan menempuh berbagai langkah di antaranya:

a.    Mempererat kedekatan Cabang dengan ranting melalui forum-forum kajian yang melibatkan pimpinan cabang sebagai pembicara.
b.    Mengaktifkan kembali majlis-majlis yang selama ini kurang diperhatikan, terutama majlis dikdasmen dan majelis Wakaf dan ZIS.
c.    Melakukan koordinasi seara rutin dengan Kepala TK dan Sekolah-sekolah Muhammadiyah. Untuk memperlancar komunikasi dan pembinaan terhadap kader-kader yang mengelola amal usaha pendidikan.
d.    Membuat Kantor Cabang secara resmi sebagai bagian dari identitas Muhammadiyah sekaligus untuk mempermudah pelayanan kepada masyarakat.

Dan seterusnya.....
Kesimpulan yang saya ambil, dilihat dari sisi positif, kehadiran PKS bagi Muhammadiyah ibarat seorang pengendara honda astrea grand tahun 1994 list merah yang sedang mengendarai dengan santainya di jalan, tiba-tiba dari belakang ada motor honda C-70 mendahului dengan kecepatan penuh. Kontan saja pengendara astrea grand tersentak dan kemudian memacu kendaraannya agar tidak tertinggal. Dengan adanya pesaing baru, Muhammadiyah bisa benar-benar mengamalkan kalimat fastabiqul khairat!

Sumber
*) Penulis pernah menjadi sekretaris Ranting Pemuda Muhammadiyah Sendangagung Minggir.

Ini Kenapa Saya Benci PKS

@Mas Nuruddin :
:::: 1. Lha kan mereka temen2 fbku mas, jadi aku tau bahwa mereka itu ikhwan PKS :')Kenapa orang PKS mem-bully salafi? Karena sampai hari ini, Salafi lah yang paling gencar mengkritik PKS (dan juga gerakan lain). Bahkan, sejak dulu (jaman aku SMA), yang diserang salafi selalu IM. Kalo gak salah, sampe nyebut Qardhawi anjing-anjing neraka segala.

Karena mereka temenku juga, maka nama mereka disamarkan, soale kalo yang temenan ama FB mereka, pasti tau kan jadinya gak enak  
Sebelum memintaku husnudzan, mohon masnya husnudzan sama akuwh ya :').

Salah satu tanda masnya udah kena 'racun' mereka ya gitu tuh. Belain mereka apapun yang terjadi. Termasuk nyuruh orang husnudzan ke pks, nyuruh orang tabayyun, nyuruh orang memahami dan toleran ke pks, tanpa melakukan itu semua terlebih dulu. Bukan tidak mungkin, suatu saat bila ada perbedaan antara MD dan PKS, masnya akan cenderung melihat dari sisi PKS terlebih dulu.Mungkin masnya lebih banyak membaca "Buku PKS", "Majalah PKS", "website PKS", dan tulisan-tulisan orang PKS, daripada dari Buku MD, Majalah MD, dan tulisan orang MD sendiri. Secara politik, banyak yang pilihannya beralih dari PAN ke PKS. Secara edukasi, ada yang menyekolahkan anaknya ke SDIT, bukan ke SDM. Tidak dapat dipungkiri, inilah bukti bahwa racun mereka mulai menyebar.

Ada humor mas,
Dalam suatu pertemuan antara ormas Islam di Jakarta, seorang pengurus NU mengeluh kepada pengurus Muhammadiyah, "Warga NU sekarang lagi prihatin. Banyak masjid yang dulunya ada doa qunutnya sekarang tidak ada lagi. Yang dulunya ada tradisi tahlil, sekarang tidak ada lagi," katanya.Maksud hati ingin menyindir pengurus Muhammadiyah yang biasa shalat subuh tak pakai qunut dan tidak suka tahlil. Tapi pengurus Muhammdiyah malah berang. "Kalau NU cuma qunutnya yang dicuri. Kalau Muhammadiyah, masjid-masjidnya sekalian dibawa kabur orang," katanya.Kali ini pengurus NU dan Muhammadiyah satu hati kalau-kalau ada gerakan sistematik dari kelompok politik dan faham keagamaan tertentu yang merebut masjid-masjid untuk kepentingan tertentu. Itu humor muncul 2008, dan itulah yang nyata2 terjadi di masyarakat mas. Itulah kenapa MD gencar melakukan sertifikasi masjid dan AUM, langkah yang belakangan juga ditiru NU. MD juga sangat keras pada organisasi 'transnasional' gitu mas (Gak cuman PKS sih, tapi intinya ya itu tadi, PKS dan HTI). Paling panas adalah tahun 2006. Dulu, orang2 itu diberi 2 pilihan, kurang lebih gini, "Kalau kalian mau tetep di MD, tinggalkan organisasi yang lain. Kalo mau di tempat lain, silakan keluar dari sini." Malah ada surat keputusan resminya. Masnya bisa coba baca ini
:  HYPERLINK "http://" \t "_blank" http://ainspirasi.wordpress.com/2008/11/04/fatwa-muhammadiyah-tentang-pks/

Di sana disebut kata infiltrasi, PKS, dan yang semacamnya. Walau tidak secara langsung menyatakan bahwa PKS menyusupi MD, tapi ada pesan tersirat yang maksudnya demikian. Coba masnya googling "Muhammadiyah PKS", dan masnya akan bisa memahami dinamika yang terjadi. Tapi jangan malah baca yang sumbernya dari PKSnya mas, sama aja bo'ong kalo gitu, hehehe

Di luar sana, warga MD juga selalu dibikin bingung dengan kelakuan PKS yang seakan menarik MD kepada PKS. Ada orang-orang yang bersikeras bahwa PKS bukan MD (membela kemurnian MD), tapi ada juga yang terlalu "toleran". Ya, "terlalu toleran", penyakit paling kronis dari warga NU dan MD. Mereka terlalu toleran, dan terus ditekan untuk selalu demikian, hingga akhirnya mereka justru diterkam dan jadi korban :')

Salah satunya, ya mengenai masjid tadi. Di suatu daerah di Yogya, ada masjid yang mau dibuat plakat. Pengurusnya aplud di grup MD. Warga MD mendukung. Tapi ada oknum PKS yang menyebarkan racun, "Ngapain masjid dikasih plakat? Masjid kan milik umat. Gak usah dikasih plakat gituan." Sungguh Mas, mereka itu manis kata-katanya, tapi sangat beracun pada hakikatnya. Kenapa aku bilang gitu? Karena di Tegal, temenku pernah cerita bahwa masjid di perumahannya dimasuki orang2 PKS yang merupakan warga baru di sana. Saat mereka mulai menguasai, mereka pun semangat untuk mnegajak warga ke masjid. Tentu warga enggan karena amalan dan pengajaran di masjid itu menjadi berbeda dengan sebelumnya. Singkat cerita, Allah mengembalikan masjid itu kepada umat, sehingga kepengurusan pun diganti. Setelah itu, apa yang terjadi? Mereka yang dulu menyeru untuk pergi ke masjid, malah sekali pun tidak lagi ke masjid itu. Mereka lebih memilih shalat d tempat yang jauh.

Dari situ, bisa disimpulkan bahwa himbauan kader PKS pada MD utk tidak memberi plakat pada masjidnya juga dilatarbelakangi tujuan yang sama : pembajakan. Untunglah para kader MD di grup itu tidak mudah dibodohi. Mereka mengikuti perkembangan selama ini, termasuk mengetahui penyusupan PKS di tubuh MD. Mereka juga tau mengenai maklumat Muhammadiyah itu yg aku kasih linknya tadi.

Tegal dan Yogya terpisah ratusan km, tapi ada motif sama. Makanya aku gak mau capek-capek lagi menuliskan kata "oknum". Aku juga gak pernah membicarakan PKS sekadar dalam konteks politik, because there's something big, something strange about them. Dan kenyataan ini dirasakan bukan cuma olehku saja mas. Ini sudah jadi rahasia umum yang diketahui orang (tentunya yang tidak dalam pengaruh PKS)

Muhammadiyah itu baik mas. Memang sayang, banyak anak MD dan NU hilang arah, dan akhirnya ikut liqo'. Bukan mereka yg salah, tapi MD dan NU yg kurang bisa menyediakan 'sarana' yg memadai. Aku juga pernah ikut mentoring Mas :')

Itu yg bikin (awalnya) aku toleran ke mereka. Waktu aku mendapati temen - temen yang mau terjerumus ke Salafi, aku selalu sarankan mereka buat rajin ikutan mentoring. Waktu ada temenku yang terlalu "fanatik" NU dan MD, aku selalu sampaikan prinsip ala tarbiyah IM 'kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, dan saling toleran dalam hal yang tidak kita sepakati'. Hingga akhirnya konflik Mesir pasca - jatuhnya Mursi menyadarkanku mas.

Saat itu, terbukalah semua borok IM. Terutama saat mereka MENENTANG serta MENCACI MAKI DOSEN DAN ULAMA Al Azhar, institusi tertinggi dalam dunia Islam (Sunni). Sejak saat itu aku bertobat dari "kesalahan" masa laluku yang terlalu toleran pada IM/PKS.

Aku ndak pernah mempermasalahkan kader PKS yang korupsi, kader mereka yang mesum, dll. Memang, ada orang PKS yang akhirnya tidak suka PKS karena hal tsb. Tapi aku ndak peduli. Ketidaksukaanku ke PKS lebih karena hubungan mereka dengan IM, dan kelakuan IM yang sudah kurang ajar di Mesir sana. Sekelumit kekecewaanku di antaranya aku tuangkan di sini (monggo kalau berkenan baca)

Dalam The Muslim 500 pun sudah di bahas dalam "Issues of the Day" hal. 178 (The Fight for Azhar). Kalau mau baca versi Indonesia, masnya bisa baca di sini

Jadi, sekali lagi dipahami bahwa kita membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar PKS. Artinya, meski ada orang di PKS paling bersih pun, ya dia tetap IM, dan karena itu aku ndak suka. Meski ada orang yang keluar dari PKS (katanya untuk menyelamatkan gerbong dakwah), aku tetap ndak suka, karena hakikatnya mereka itu ya IM.

Sikap ini bukan cuma aku yang mengambil. Ustadz Sarwat, pengelola rumahfiqih.com juga demikian. Sedikit cerita, dulu, banyak jamaahnya yang orang PKS, sampai beliau (sampai sekarang) dijuluki ustadz PKS. Bahkan, dulu beliau juga aktif mengelola tanya-jawab di eramuslim.com. Ketika beliau kritis pada PKS, astaghfirullah, kelakuan jamaahnya itu seperti orang yang tak punya adab. Itulah bahayanya virus PKS.
Di Mesir, gelar Yusuf Qardhawi akan (atau malah sudah) dicabut oleh Al Azhar. Abdullah bin Bayyah, keluar dari organisasi Persatuan Ulama Internasional (organisasi bentukan Qardhawi - IM), padahal beliau tadinya menjabat wakil dan kemudian justru mendirikan organisasi baru, Dewan Ulama Islam. (Baca)

Kalangan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) juga memahami betul bahwa kader - kader PKS selalu berusaha menguasai mereka. Bahkan mereka nggak segan membuat page Info Mesir, dan yang semacamnya, padahal berita-berita di dalamnya hanya mengambil dari sisi IM saja. Mereka juga terus menerus memberikan imej bahwa Mesir dan Al Azhar adalah IM, demi menarik simpati masyarakat awam di Indonesia.

Jadi, dengan amat terpaksa, saran dari masnya harus aku kembalikan lagi tanpa mengubah satu huruf pun :
"saranku sh kl melihat sesuatu jgn subjektif jgn dr 1sudut pandang saja"

Apalagi dari sudut pandang yang jelas keliru dan penuh racun dari mereka.

:::: 2. Golongan "itu" yang dimaksud itu syi'ah pok mas? Masnya baca dari link yang aku kasih kan? Bener mas, itu biar bombastis aja, menarik perhatian massa walaupun mungkin ada beberapa oknum yang beneran syi'ah juga.

Aku juga udah tuliskan di situ, di komentar sebelumnya, bahwa tujuanku bikin postingan itu :
a. Buat nyindir mereka [IM] yang selama ini sok-sok anti-Syi'ah, eh ternyata "Nabi"-nya [Morsi] malah main mata ama Syi'ah [Iran] 
b. Makin menguatkan keyakinan kita akan goyahnya akidah dan keyakinan mereka.
c. Mengungkap kemunafikan dan standar ganda mereka.
d. Terus memperingatkan semua pihak agar tidak berlaku naif (terlalu toleran kepada pihak-pihak yang intoleran).

:::: 3. Demikianlah mas, sekelumit jawabanku. Tentu ini belum semuanya. Semua ini aku dapetnya juga gak instan, melainkan butuh waktu dan perjalanan yang penjang. Karenanya, aku juga ndak memaksa masnya buat sadar secepat kilat.
Tambahan : mereka lah (bersama HTI dan Salafi) menjadi pihak yang merusak hubungan NU-MD yang sudah mulai mesra selama 20 tahun ini. Kenapa? Karena oknum mereka kadang dengan mudahnya mengangkat isu-isu khilafiyah. Ketika warga NU resah, MD juga lah yang kena. Karena dilihat dari kacamata NU, ya MD, PKS, dll itu sama saja. Dan kenyataannya memang masyarakat masih sulit membedakan satu per satu. Buktinya masnya ikut mentoring mereka, aku juga. Maka kita tidak heran jikalau hari ini perdebatan yang sudah 20 tahun ditinggalkan, kini mulai diangkat lagi :')

Karenanya, kalau mereka musnah, tentunya kita berharap hubungan mesra yang sejati dapat kembali terjalin. Maka apa yang orang bilang, bahwa "Kalau masalah NU-MD sudah selesai, maka sebagian masalah bangsa ini juga selesai", semoga ada benarnya.

Dan aku rasa tidaklah berlebihan kalau aku selalu sarankan teman-teman untuk simply pilih NU dan/atau Muhammadiyah. Bukannya yang lain pasti sesat atau apa, tapi 2 inilah yang paling terjamin track recordnya, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Karena itu mas, mari kembali ke Muhammadiyah. Masnya nggak perlu lagi menyembah Mursi dan me-nabi-kan LHI. Kita kembali pada ajaran Islam, agama penyeru Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad... 

Kalo masnya mau sharing cerita, mungkin @Rauf bisa bantu. Dia Muhammadiyah, ikut mentoring, tapi sudah menemukan arah. Masnya nggak sendirian. Ada banyak teman2 yang struggle untuk keluar dari "candu" PKS. Semoga berhasil mas. Kalo udah berhasil, jangan sungkan membantu menyadarkan korban - korban lain yang masih saja kecanduan ~
Sekali lagi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan Mas...
Sungguh Allah Maha Pemberi Taufik, tunjukilah kami pada jalan-jalan yang terbaik...
Aamiin

Oleh : Muntazal Admi
Sumber

Thursday, 22 October 2015

Wawancara dengn (alm) Ustadz Rahmat Abdullah

Menelusuri gerakan Tarbiyah, tentunya kurang lengkap jika tanpa mengetahui apa yang ada dalam pikiran pendirinya. Artikel ini adalah salah satu yang menerangkan seperti apa Tarbiyah serta keterkaitannya dengan organisasi pergerakan Islam yang sudah tua. Silahkan

***

Syaikhut Tarbiyah, KH Rahmat Abdullah:

“Ikhwanul Muslimin Inspirasi Gerakan Tarbiyah”

Usianya belumlah setengah abad. Tapi pembawaannya yang tenang kebapakan serta rambut dan janggutnya yang sebagian telah memutih, mengesankan pria kelahiran Jakarta, 3 Juli 1953 ini lebih tua dari usia yang sebenarnya. Sehingga cukup pantas bila ia kerap dituakan dan disegani oleh lingkungan pergaulannya.

Dalam publikasi acara Seminar Nasional “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, awal bulan lalu, ustadz keturunan Betawi ini ditetapkan sebagai pembicara utama (keynote speaker) serta disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah; sebuah jabatan yang belum populer di telinga masyarakat, termasuk di kalangan aktivis da’wah dan harakah (pergerakan) selama ini.

Ketika dikonfirmasi Sahid tentang jabatan tersebut, sambil tersenyum dan merendah Rahmat membantahnya. Menurut Ketua Yayasan Iqro’ Bekasi ini sebutan tersebut hanyalah gurauan panitia yang kebetulan telah akrab dengannya. Rahmat sempat mengajukan keberatan kepada panitia, tapi ternyata publikasinya sudah terlanjur disebar. Akhirnya ayah dari tujuh putra-putri ini cuma bisa balik bergurau, “Adik-adik mau nyindir bahwa saya sudah kakek-kakek ya? Syaikh itu kan dalam bahasa Arab artinya kakek.”

Boleh jadi jabatan Syaikh Tarbiyah itu, seperti diakuinya, cuma gurauan atau sindiran panitia. Tapi banyak orang percaya sejatinya suami Sumarni HM Umar ini memang orang yang dituakan dalam gerakan yang bernama Tarbiyah. Apalagi mengingat di kepengurusan Partai Keadilan (PK) Rahmat memegang amanat sebagai Ketua Majelis Syuro dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai. Seperti dimaklumi, PK didirikan dan disokong oleh para kader Tarbiyah.

Dalam seminar nasional yang dihadiri ribuan aktivis dan simpatisan Tarbiyah, Rahmat mengawali acara dengan orasi bertajuk “Kilas Balik 20 Tahun Tarbiyah Islamiyah di Indonesia dan Langkah Pasti Menyongsong Masa Depan.” Dalam kesempatan tersebut dicanangkan tahun 1422 H ini sebagai tahun kebangkitan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.

Dalam kancah pergerakan Islam di Indonesia, nama gerakan Tarbiyah belum populer di kalangan masyarakat awam. Kata tarbiyah lebih biasa dilekatkan orang pada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), sebuah ormas Islam yang berbasis di Sumatera Barat dan pernah menjadi partai Islam.
Namun bagi orang yang akrab dengan gerakan da’wah kampus, tidaklah merasa asing dengan sebutan itu. Di era ‘80-an dan ‘90-an gerakan ini kerap juga disebut Ikhwan, karena akrabnya aktivis Tarbiyah dengan manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam di Mesir yang pengaruhnya telah mendunia.

Dari orasi yang disampaikan Rahmat, memori orang terpanggil lagi pada kenangan 20 tahun ke belakang ketika aktivis Tarbiyah merintis gerakan ini di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Salah satu tandanya adalah merebaknya pengajian usrah dan halaqah di kampus-kampus. Tonggak lainnya, mulai maraknya pemakaian jilbab oleh para siswi dan mahasiswi yang mendapat tentangan keras dari berbagai kalangan yang alergi terhadap syariat Islam. “Gedung sekolah dan semua peralatan sekolah, termasuk Departemen Pendidikan yang dibangun 90% dananya dari ummat Islam, harus mengusir putri-putri Islam karena mereka menggunakan busana demi melaksanakan perintah agama mereka,” ungkap murid kesayangan almarhum KH Abdullah Syafi’i ini dalam orasinya.

Begitu banyak pahit getir yang dirasakan, sehingga ada sebagian kader yang terputus dari jalan perjuangan. Tapi banyak pula yang bersabar, terus bermujahadah menempa diri dan menabung amal, bertahan hingga kini, menyemai insan dakwah ke seluruh pelosok negeri. Hasilnya antara lain, jilbab jadi pakaian jamak bagi wanita di negeri ini. Dari yang benar-benar penuh kesadaran berislam hingga yang masih ikut-ikutan lantaran telah jadi mode.

Tentu saja itu semua bukan cuma hasil kerja Rahmat Abdullah dan kawan-kawan seperjuangannya di Tarbiyah. Tapi harus diakui saham harakah Tarbiyah bersama harakah-harakah lain telah memberi itsar (bekas) perjalanan da’wah yang mengesankan di zamrud katulistiwa tercinta ini.

Bagaimana sejarah bermulanya harakah ini? Apakah benar terkait dengan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir? Kepada Saiful Hamiwanto, Pambudi Utomo dan Deka Kurniawan dari Sahid, yang bertandang ke rumahnya yang sederhana nan asri di Kompleks Islamic Village Iqro’, Pondok Gede, Bekasi, kiai yang ramah ini membeberkannya untuk Anda, para pembaca. Berikut ini kutipan dari sekitar tiga jam perbincangan dengannya. Selamat mengikuti.

***

Dengan menggelar seminar “Tarbiyah di Era Baru”, gerakan Tarbiyah tampaknya mulai membuka diri secara terang-terangan. Bahkan tahun ini dicanangkan sebagai ‘Aam (Tahun Kebangkitan) At-Tarbiyah. Apa latar belakangnya?
Bismillah, sangat sadari bahwa setiap fase perjuangan itu menuntut sikap-sikap sesuai dengan fase-fase tersebut. Sehingga ada doktrin dalam Tarbiyah yang disebut, likulli marhalatin mutaqallabatuhaa (setiap fase itu ada tuntunannya); kemudian li likulli marhalatin muqtadhayatuhaa, (setiap fase ada konsekuensi yang harus dilahirkannya), dan likulli marhalatin rijaaluhaa (setiap fase ada orangnya, tokohnya atau kadernya).
Kemudian, apa yang kita sampaikan ketika dakwah ini mengalami satu fase yang berbeda dengan masa lalu? Kemarin dakwah berhasil melalui masa-masa sulit, mengayuh diantara dua persoalan dan kondisi, yakni kondisi melawan arus yang tidak terlawan dengan kekuatan yang secara thobi’i (alami) susah dihadapi secara face to face, serta kondisi larut.

Memang, dalam fase itu, kita lihat banyak juga yang tidak memiliki istimroriyah (kesinambungan), kontinyunitasnya tidak jelas. Kalaupun ada yang berjalan terus, perkembangannnya menyedihkan. Ada juga yang berkembang tapi kehilangan asholah (orisinalitas). Ini adalah kasus-kasus perjalanan dakwah dalam menghadapi rezim yang represif dan tekanan budaya. Bisa jadi banyak yang larut. Seperti para pengikut Nabi Isa, setelah beberapa lama malah jadi pengikut penjajah yang nyaris menyalib Nabi Isa sendiri.

Nah, kita ingin, keberhasilan melewati masa-masa kritis dan sulit semacam itu juga bisa kita capai ketika keadaan ini berubah, karena tidak otomatis daya tahan itu ada. Makanya harus dicanangkan sesuatu agar apa-apa yang menjadi doktrin Tarbiyah di atas, bisa direalisasikan.

Bisa jadi, kader yang dulu tahan menderita lama, tiba-tiba ketika segalanya terbuka seperti sekarang ini, menjadi tidak tahan lagi. Kalau dulu kan jelas sekali perbedaannya, furqon-nya, antara haq dan batil, sehingga akhlak para kader itu selalu berlawanan dengan akhlak buruk orang-orang memusuhi mereka. Nah, setelah keadaan ini terbuka, apa ada jaminan bahwa mereka tidak akan larut?

Memang, secara doktrin sudah diantisipasi, misalnya dengan pemahaman tentang tamayyu’ (mencairnya nilai-nilai), idzabah (pelarutan), istifdzadzat (provokasi), ighra’at (rayuan-rayuan), dan mun’athofat (tikungan-tikungan). Secara teoritis kita tahu semua tentang itu. Tapi ketika kita menjalaninya, apakah kita cukup siap?

Maka pencanangan ini beranjak dari kenyataan, dimana sebuah komunitas dakwah sedang mengalami fase-fase lain yang berbeda dengan fase ketika mereka dibesarkan dulu. Pencanangan ini untuk menyiapkan sesuatu yang secara teoritis sudah mereka kenal, tetapi secara komunal, penghayatan, apresiasi perlu dihadapi secara lebih serius agar tidak menimbulkan persoalan yang rumit yang menyebabkan taurits (pewarisan) itu menjadi terputus.

Dulu dimulai satu langkah dan hasilnya adalah hari ini. Bagi yang tidak mau melihat hasil yang sama di hari nanti, ya sekarang diam dan tidur saja. Tapi kalau ingin melihat terus-menerus keadaan seperti ini, maka harus bergerak untuk masa mendatang. Ini terutama yang melatarbelakangi pencanangan ‘Aam At-Tarbiyah (Tahun Tarbiyah).
Tapi perlu dicatat bahwa pengertian tarbiyah (pendidikan) ini tidak menafikan proses tarbiyah yang terjadi di Indonesia sejak dulu. Tanpa proses tarbiyah, bagaimana mungkin walisongo dapat melahirkan pejuang-pejuang handal. Apapun namanya, apakah itu pengkaderan dengan ‘t’ kecil (tarbiyah), yang jelas itu adalah proses pendidikan. Namun Tarbiyah yang sedang kita perbincangkan dalam konteks ini adalah dengan ‘t’ besar, Tarbiyah (sebagai nama sebuah gerakan, red).

Wanti-wanti tentang pelarutan ini pernah Anda sampaikan waktu Munas PK tahun 2000. Apakah memang anda sendiri sudah melihat kecenderungan itu, sehingga perlu ada pencanangan ini?
Kalau kita baca sirah (sejarah), Rasululllah pernah berpesan diantaranya “ma al-faqru bi akhsya alaikum, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian, tapi aku mengkhawatirkan apabila bumi di buka (dimenangkan) lalu kamu bersaing memperebutkan dunia, sehingga kamu celaka, sebagaimana celakanya orang-orang sebelum kamu.” Dulu, kesulitan itu membuat segalanya terbatas, dan kita berhasil melewatinya. Contohnya, kita tidak punya villa, tapi bisa menikmati banyak villa. Dan kawasan Puncak (Bogor, red) yang dianggap identik dengan maksiat, seperti hari ini bisa berubah sebagai tempat acara pengajian karena seringnya digunakan untuk pengkaderan oleh semua pihak, diantaranya oleh kalangan Tarbiyah.

Wanti-wanti rasul itu, dalam kaitan ini, menegaskan bahwa setiap kondisi ada pengaruhnya. Kalau dulu, setiap waktu mereka bisa bertemu, sehingga kesalahan sedikit saja bisa langsung diketahui. Tapi ketika mereka sudah ada di kawasan yang menggiurkan, secara massal tantangan akan semakin keras. Sesuatu yang menggiurkan, kalau baru cerita, masih bisa bilang tidak mau. Tapi kalau sudah sudah di depan mata, bagaimana mungkin tidak tidak tergoda.

Supaya tidak larut, mereka jangan sampai lupa kepada akarnya. Makanya, pemantapan nilai Tarbiyah dalam pencanangan ini tidak bisa kita abaikan, meskipun sekarang mereka masih rutin bertemu setiap pekan dengan muhasabah (evaluasi) dan muraqabah (pengawasan).
 
 
Selama 20 tahun berkiprah di Indonesia, masih banyak orang yang belum tahu Tarbiyah ini. Bisakah Anda ceritakan sejarahnya?
Dulu, apa yang kita kaji sebetulnya adalah apa yang menjadi keyakinan bersama umat Islam . Kita punya keinginan dan cita-cita yang sama, tidak ada perbedaan dari segi materi. Nah Tarbiyah menjadi sejarah ketika pola pendekatan pengkajiannya tersebut dibuat integral dan menjadi aplikatif.
Kalau di berbagai tempat ukhuwah masih menjadi teriakan-teriakan yang semu, di lingkungan Tarbiyah, itu diaplikasikan. Kalau penguasaan Islam selama ini masih bersifat kognitif, maka di Tarbiyah hal itu dicoba untuk diamalkan. Tema yang dikaji dalam beberapa kali pertemuan harus ditransformasikan dari dairatul qaul (perkataan, teori), kepada dairatul amal (pengamalan). Kemudian dari amal kepada kebiasaan.

Kalau Islam dulu dibatasi pada bidang-bidang dan ruang-ruang tertentu, maka di Tarbiyah hal itu diperluas sebagaimana Islam adanya yang berbicara juga tentang politik, ekonomi dan lain-lain. Dengan kata lain ada orientasi kepada Islam kaffah (total). Mereka dibangun kesadarannya untuk melihat bahwa pemahaman Islam mereka sebelum ini harus diluruskan.

Demikianlah sebuah upaya yang dilakukan Tarbiyah supaya kita bisa mengamalkan Islam dalam satu komunitas baru. Yang intens mengkaji Islam kan biasanya dari kawasan santri, lalu dengan munculnya Tarbiyah, dakwah mulai berdaya, karena mulai memasuki kawasan-kawasan yang sebelum ini dianggap sekuler, yakni kampus-kampus yang memang bukan tempat kajian agama. Di kawasan itu subur karena para mahasiswa dan sarjana akrab dengan ilmu-ulmu kauniyah yang dalam Tarbiyah memang menjadi doktrin penting.
Mereka di laboratorium mengkaji ayat-ayat kauniyah itu, dan kemudian mendapat pembenaran dari ayat qauliyah yang dikaji dalam Tarbiyah, sehingga mereka pun jadi cenderung kepada aktivitas yang militan.

Dengan proses kesejarahan itu, maka saat ini adalah era baru dimana dakwah yang selama ini sering diumbar di mimbar mendapatkan perluasan dan diversifikasinya yakni yang melanjut menjadi dakwah kader. Mereka inilah yang dalam konsep dakwah Tarbiyah disebut dengan anasirut taghyir (elemen perubah).

Dalam proses dakwah ada obyek yang hanya bisa sekedar menerima dakwah yakni qoobilud dakwah. Ada yang bisa menerima perubahan dari dakwah itu, yakni qoobilut taghyir ada yang berpotensi menjadi anasirut taghyir. Nah, anasirut taghyir ini, ada di kawasan ilmiah, yakni kampus-kampus dan sekolah-sekolah.

Kepedulian untuk menggarap kalangan yang dalam waktu singkat bisa melakukan perubahan ini memang dilakukan dengan sadar, karena pengalaman dakwah yang sudah dilakukan sebelumnya, seperti di dalam parpol/ormas, dirasa belum efektif. Pengalaman sebelum ini, dakwah di kampus itu lebih murni, sehingga proses ini akan menyejarah dengan adanya keluarga-keluarga baru yang akan mengaplikasikan Islam secara lebih utuh.

Hal ini tentu saja tidak terlepas dari adanya satu bi’ah (lingkungan). Nah, tarbiyah ini adalah bi’ah, dimana unsur-unsurnya terus dibimbing dalam berislam dan dikawal dari segala pengaruh zaman yang masuk.

Inilah yang disebut kelompok kajian yang mengandung 3 unsur utama. Pertama, yang mengandung atmosfir dzikir dan ibadah atau aspek ruhaniah spiritual. Kedua, aspek fikriyah, keilmuan. Dan yang ketiga, aspek dakwah harakiyah, yakni implementasi dari yang pertama dan kedua. Proses yang demikian pada saatnya akan sampai pada satu titik, dimana mereka siap untuk berinteraksi dengan masyarakat dengan bekal dan kekuatan yang memadai sehingga tidak mudah larut, tapi malah bisa menciptakan perubahan.
Manhaj Tarbiyah yang demikian itu terinspirasi dari mana?
Kalau kita merujuk kepada buku yang ada, seperti yang diakui oleh sebuah parpol Islam , mereka berasal dari kelompok usrah. Dan referensi dari gerakan ini memang diantaranya merujuk kepada gerakan yang berkembang di Mesir. Secara faktual, menurut Prof. Fathi Yakan, referensi ilmiah dunia Islam sekarang ini 60 persennya berasal dari gerakan Islam di Mesir ini.
Sebenarnya hampir seluruh doktrin dakwah dari gerakan Tarbiyah, diambil dari sumber-sumber yang jauh sebelum Hasan Al-Banna. Misalnya dalam kitab Muhammad bin Abdul Wahab ada materi qul haadzihi sabiilii, yang merupakan materi dasar bagi setiap pemula yang masuk Tarbiyah. Ternyata dalam kitab Syekh Abdullah Alawi Al-Hadaad, yang sangat populer di pesantren, yaitu Ad-Da’wah at-Tammah, juga dibuka dengan ayat tersebut, jadi ini sudah biasa.
Intisari ayat dalam QS 12:108 itu pertama tentang deklarasi untuk mengikuti jalan dakwah, qul haadzihi sabiilii. Kedua, jalan itu hanya menuju kepada Allah. Ketiga, jalan itu berlangsung di atas manhaj yang jelas. Keempat adanya pemimpin yang ikhlas (qiyadah mukhlisoh) di jalan itu. Kemudian kelima adanya pengikut/pendukung yang tho’at (jundiah muthi’ah) dalam jalan itu.
Mereka semua rata-rata memiliki marja’ (rujukan) yang sama dari berbagai ulama. Bagi Tarbiyah, siapa saja yang berbicara tentang Islam akan menjadi rujukannya. Tapi yang paling mayoritas sering digunakan adalah pemikiran-pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, An-Nadwy dan Mushtafa Masyhur.

Tahun 1980-an pemikiran-pemikiran mereka memang masuk ke Indonesia, karena di tempat asalnya, Mesir, mereka dipukul oleh Nasser. Ini hikmahnya, mereka muncrat kemana-mana, termasuk ke sini. Mereka juga masuk ke berbagai elemen dan lembaga ummat di berbagai pelosok dunia. Dengan berbagai cover mereka menjalani gerakan mereka, misalnya, WAMY, IIFSO, OKI, Rabithah Alam Islami, termasuk juga lembaga yang pernah dipimpin Anwar Ibrahim. Lembaga-lembaga itu menjadi corong yang mensosialisasikan abad ke-15 H ini sebagai titik tolak keberangkatan ummat Islam.

Apakah yang Anda maksud gerakan dari Mesir itu adalah Ikhwanul Muslimin?
Gerakan inilah yang nampaknya banyak memberi inspirasi dan pengaruh kepada Tarbiyah. Prosesnya antara lain lewat pengiriman buku-buku tentang gerakan itu ke pesantren-pesantren oleh mahasiswa kita yang belajar di Timur Tengah. Tapi sayang kitab-kitab itu tidak dibuka, karena dianggap bukan kitab kuning.
Saya ingat, tahun 1972 Dr. Yusuf Qaradhawi pernah berkunjung ke Indonesia. Dan beliau menyumbangkan kitab-kitab sejenis itu. Di antara yang diberi itu adalah guru saya KH Abdullah Syafi’i. Beliau adalah seorang pembaca yang lahap. Di mobilnya selalu ada kitab.

Waktu itu saya masih kelas III Tsanawiyah. Mengikuti jejak beliau, saya sudah berkenalan dengan kitab Fii dzilalil qur’an serta kitab karangan Abu Hasan Ali An-Nadwi yang disumbangkan Yusuf Qaradhawi.

Begitulah inspirasi gerakan itu sampai ke sini. Waktu itu orang belum yakin, bagaimana halaqah yang paling banyak anggotanya cuma 12 orang bisa mengubah dunia. Orang-orang masih yakin perubahan itu hanya bisa terjadi dengan massa yang besar. Sementara kami terus melakukan pengkaderan intensif.
Begitu intensifnya hingga di masa awal itu ada seorang tokoh muda gerakan ini, yang bisa 3 kali ke Puncak setiap akhir pekan untuk mencetak kader-kader Tarbiyah ini. Biayanya dari kantong sendiri. Kadang numpang truk. Bahkan tidak aneh kalau waktu itu di antara mereka ada yang jalan kaki dari Depok ke Jakarta, itu biasa. Dan mereka pulang jarang yang di bawah jam 12 malam. Seperti itulah mereka menjadi kader di masa lalu. Meski begitu Tarbiyah juga tidak eksklusif, karena mereka juga terjun ke tengah masyarakat.
 
 
Apakah proses pengkaderan itu dilakukan juga di kampus dan sekolah-sekolah agama?
Ada, perekrutan itu dilakukan juga di sana. Tetapi memang respon yang paling cepat adalah di kampus-kampus umum itu. Mungkin karena berangkat dari kesadaran, bahwa mereka sudah minus keislamannya, sehingga mereka semangat untuk belajar Islam. Sedangkan orang-orang di kampus agama mengklaim, “Kami gudangnya Islam.” Jadi mereka sudah merasa cukup.

Kembali soal sejarah Tarbiyah tadi. Bisa anda jelaskan siapa-siapa saja tokoh yang membawa fikrah gerakan ini ke Indonesia?
Tentu saja ketika proses masuknya fikroh ini berlangsung, banyak pintu yang digunakan, proses ini seperti tayyar (arus). Sebuah tayyar kan tidak jelas mana awal dan mana akhir. Begitu banyak sehingga jika Anda sebut beberapa nama tokoh Tarbiyah, boleh jadi semuanya punya peran.

Tapi saya ingat salah seorang kyai di Jakarta, pulang dari Timur Tengah membawa kitab untuk pesantren. Saya mengkhatamkan tiga kitab risalah Hasan Al-Banna yang dibawa kyai saya itu yaitu Bainal Amsi wal Yaum (Antara Kemarin dan Hari Ini), Da’watuna (Dakwah Kami di Era Baru) dan Risalah Ta’lim.

Dalam perkembangannya Tarbiyah terjun ke dalam da’wah politik yakni dengan pendirian Partai Keadilan. Apa pertimbangannya?
Bukankah begitu banyak ilmu, lalu kalau bukan untuk dikaji dan diamalkan dan diaplikasikan, terus untuk apa? Apakah cukup kita membicarakan di dalam halaqah, tapi di luar kita selesai begitu saja. Kalau dilihat dari perjalanan Rasulullah, mereka mulai sembunyi selama tiga tahun, sesudah itu mengumumkan da’wahnya. Saat itu sudah eranya dakwah memasyarakat sampai hijrah dengan segala resikonya. Sesudah itu di Madinah terjadi suatu proses yang bersifat politik praktis dan kelembagaan politik.
Lagipula, kita harus membayar janji kita kepada Allah bahwa shalat, ibadah dan seluruh kehidupan kita untuk Allah. Jadi hidup itu mulai dari tidur, makan, sampai mengatur orang bermasyarakat, berarti namanya politik.

Keputusan untuk terjun ke politik didorong oleh kesadaran supaya tidak ingin berasyik-asyik saja dalam konsep da’wah, tetapi apa yang bisa kita berikan untuk ummat pada saat moment berpolitik memungkinkan. Kalau momen itu tidak diambil, ummat akan mengeluh dan kecewa. Sementara banyak orang kafir sudah mengibarkan bendera.

Orang memaklumi bahwa kader Partai Keadilan (PK) dari kalangan Tarbiyah. Sementara Doktor Yusuf Qaradhawi menulis bahwa PK adalah perpanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia. Jadi Tarbiyah sesungguhnya adalah IM di Indonesia?
Wallahu a’lam. Saya baca buku asli yang ditulis Qaradhawi itu. Di situ tertulis imtidad. Tetapi apakah betul terjemahannya sebagai perpanjangan tangan. Sebetulnya mereka adalah jamaah wahidah yang diikat oleh rabithul aqidah. Jadi di manapun mereka berada tetap dalam satu ikatan yang kokoh.

Apakah ada semacam ikatan resmi antara tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Tarbiyah di Indonesia?
Begini, kalau soal kerjasama ya sulit juga dijawab, karena tidak sama seperti komunis di Indonesia dulu yang punya hubungan jelas dengan komunis di Rusia. Yang jelas kalau di luar negeri seperti di Yordan, Sudan dan lain-lain, Ikhwanul Muslimin bergerak dengan bendera formal, tapi ada di sebagian negeri yang lain tidak menggunakan nama Ikhwanul Muslimin, namun semangatnya sama.

Mengapa tidak ada keinginan untuk menegaskan diri dengan menyatakan bahwa Tarbiyah tidak lain adalah Ikhwanul Muslimin?
Yang penting bukan terstruktur atau tidak, diakui atau tidak, tapi produk apa yang bisa dihasilkan oleh seorang muslim dengan komitmen dan semangat dakwahnya. Kita lebih mengandalkan kualitas komoditas, bukan propagandanya, na’tamid ‘ala husnil bdho’ah la ‘ala husnid di’ayah.

Seingat saya, selama bertahun-tahun tumbuh bersama gerakan ini, mereka tidak pernah diperkenalkan dengan satu tokoh. Kita selalu membiasakan untuk selalu merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah. Kita mencegah agar jangan sampai kader-kader kita terpesona oleh figur dan oleh nama besar. Lebih baik begitu daripada mengibarkan bendera tapi tidak pernah membuktikan komitmennya.

Kita sendiri tidak berani mengklaim sebagai Ikhwanul Muslimin karena, pertama, sudah benarkah klaim itu, kalau tidak, berarti kita sudah membohongi masyarakat. Kedua, kalaupun kita punya hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, apakah kualitas kita benar-benar sama dengan mereka. Kalau sudah sih tidak apa-apa mengklaim sebagai bagian dari jamaah itu. Tapi kalau pemikirannya jauh dari Hasan Al-Banna, dan produk akhlaknya mengecewakan, gaya bahasanya juga berbeda buat apa mengaku-ngaku. Jadi bagi kita yang penting adalah produknya dulu.

Di Mesir organisasi IM muncul secara terang-terangan. Mengapa di negeri lain tidak semua yang mau terang-terangan?
Mesir itu kan monumen, tempat lahirnya gerakan itu. Sebagai monumen besar, ia tidak boleh tersembunyi. Apapun risikonya, termasuk nyawa, eksistensi jama’ah harus tetap muncul. Kalau dia dibilang tidak ada, tidak ada di dunia ini, kalau dia dibilang ada, orang akan bilang ada.

Tentu saja di Indonesia tidak bisa saya katakan bahwa Tarbiyah adalah perpanjangan tangan yang terstruktur dari IM, tapi lalu disembunyikan. Benar atau tidak, itu soal lain. Paling tidak dari sisi kampanye nama, memalukan kalau orang Indonesia cuma mengambil nama lalu kualitasnya tidak sampai.
Apakah pencanangan gerakan Tarbiyah di era terbuka ini kemudian akan mengarah kepada pembentukan ormas?
Nampaknya tidak. Jadi pencanangan ini adalah da’wah ke berbagai lini. Ini lebih kepada keinginan untuk menanamkan semangat menyebar.

Dalam selebaran acara seminar “Tarbiyah di Era Baru” Anda disebut sebagai Syaikh Tarbiyah. Apakah memang dalam struktur Jamaah Tarbiyah imamnya Anda. Dan bagaimana sampai Anda didudukkan sebagai syaikh?
Antara sungguhan dan guyonan, susah membedakannya. Biasanya orang yang sudah dekat kan begitu. Sebenarnya sebutan ini hanya buatan panitia saja. Saya tanya mereka, “Kenapa dibuat seperti ini?”
Mereka bilang, “Publikasinya sudah disebar kok.” Maka saya balas gurau, “Adik-adik mau nyindir saya ya, bahwa saya sudah kakek-kakek. Syaikh itu kan artinya kakek. Jadi era saya sudah hilang, sekarang era kalian semua?”

Pertimbangan mereka mungkin saya ini kan nggak sama dengan yang lain. Yang lain kan ada yang bergelar doktor. Mereka mungkin mengira-kira untuk mengimbangi, sehingga akhirnya dibuat julukan itu. Humor itu biasa terjadi, sering si Fulan ditulis bergelar Ph.D, maksudnya bukan doktor, tapi singkatan dari Pakar Halaqah dan Daurah, hahaha…

Lantas ada yang menggelari saya dengan Kyai Haji, tapi itu orang-orang saja yang kasih. Saya sendiri risih dipanggil Kyai Haji. Kalau diangkat dengan sebutan mulia saya gemetar.

Apakah penyebutan syaikh itu terkait dengan posisi struktural anda sebagai ketua MPP di PK?
Insya Allah tidak.

Gerakan Tarbiyah selama ini banyak berbasis di kampus yang notabene masyarakat menengah dan relatif elit. Belakangan apakah juga memperhatikan kalangan bawah?
Relatif, di beberapa daerah pembinaan kalangan bawah tampaknya cukup memuaskan, walaupun untuk berpacu perlu waktu, kenapa misalnya di beberapa daerah transmigrasi ada keberhasilan yang mereka menjadi pemimpin riil.

Sering muncul kritik bahwa gerakan Tarbiyah ini cenderung eksklusif. Apakah Anda rasakah pula kecenderungan itu?
Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling ngobrol saja.

Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun.

Jadi kesan eksklusif itu bukan karena ajaran ataupun doktrin, tapi dari sisa yang belum diselesaikan dari kajian materi yang saat itu harusnya mereka cari sendiri.
Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu.

***

Sesuai dengan apa yang ia nasehatkan, Rahmat Abdullah sendiri adalah sosok pejuang da’wah yang sangat aktif memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya. Meski begitu ia tetap tawadhu dan menolak disebut otodidak. “Allah-didak. Allah yang mendidik dan mengajarkan kita,” katanya meluruskan.
sumber: www.hidayatullah.com