Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

Sunday, 8 November 2015

Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam [ FN - KSDA ]

Apa itu Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam [ FN - KSDA ] ?

Jujur saja, saya sendiri baru mendengar gerakan ini pada akhir tahun 2015. Kira - kira saat Indonesia sibuk dengan bencana asap baik yang di sumatra maupun yang di Kalimantan. Pasalnya bencana asap ini termasuk yang terbesar dari yang sebelumnya. Namun tindakan pemerintah tentu saja masih minimalis dan belum maksimal, malah terkesan abai.

Selain itu juga, kasus - kasus yang sedang ramai dibicarakan sejak 2014, dan baru sampai di telinga saya tahun 2015 ini. Itupun setelah saya menonton film dokumenter " Samin vs Semen ", yang di Unibraw sampai dibubarkan penayangannya tapi justru disini ( Cilegon ) saya bisa nonton santai bersama komunitas "yang sedang tumbuh" Rumah Baca Cilegon (RBC) -- sebut saja begitu --.

Kembali ke FN - KSDA. Gerakan ini kira - kira  muncul atas muncul atas dasar yang sama, yaitu kasus - kasus diatas. Beberapa pemikirannya tentu dituangkan bisa ikuti dalam laman mereka yang bertajuk " Daulat Hijau ". Dalam laman ini dijelaskan bahwa Front ini adalah wadah koordinasi antara Jamaah NU yang memiliki kehirauan mengenai permasalahan konflik pengelolaan sumberdaya alam (SDA), seperti udara, air, tanah, dan segala yang terkandung di dalamnya, terutama yang terjadi di basis NU.

Kelahiran Front ini diawali oleh diskusi tematik bertajuk “NU dan Konflik Tata Kelola SDA” yang diadakan di Pendopo LKiS, Yogyakarta pada tanggal 4 Juli 2013 dengan pembahasan kasus di berbagai daerah di Indonesia. Diskusan sepakat untuk membentuk aliansi dengan tujuan menyiapkan media jaringan untuk kelancaran sirkulasi informasi dan kemudahan pengorganisasian serta mengarusutamakan tata kelola SDA di kalangan NU.

Pada tanggal 15 Agustus 2015 diadakanlah diskusi lanjutan yang melahirkan pernyataan sikap Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam [ FN - KSDA ] bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama [PBNU]. Dalam pernyataan ini berisi tentang sikap terhadap masalah SDA, yang ekploitasinya kurang memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan [AMDAL]. Dalam hal ini yang disoroti masih khusus pada kasus Pabrik Semen di Rembang dan Kalimantan. Selain itu juga, dalam pernyataan ini dimuat desakan kepada pemerintah agar dapat melaksanakan hukum tata kelola SDA yang baik dan sesuai dengan amanat UUD 1945.

Ini tentunya menjadi angin segar bagi pergerakan salah satu organisasi Islam tertua dan terbesar di Indonesia. Dimana gaung gerakan pemuda Nahdliyin, dalam hal ini KMNU, IPNU, PMII sudah mulai jenuh dan "kurang tampil" dibandingkan organisasi  kepemudaan dari induk organisasi Islam lainnya. Selanjutnya tentu kita berharap gerakan ini dapat memberikan solusi dan kontribusi dalam menyelesaikan masalah - masalah  besar Indonesia. Terutama di bidang tata kelola Sumber Daya Alam [SDA]. Dan semoga kedepannya gerakan ini bukan hanya mengadvokasi kasus - kasus di jawa saja, tapi juga kasus - kasus yang ada di daerah lain di Indonesia.

Imam B. Carito

Monday, 2 November 2015

Kilas Balik NU

Dari sekian santri Syaikhona Kholil pada umumnya menjadi pengasuh pesantren dan tokoh NU seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah. Bahkan Presiden pertama RI Soekarno, juga pernah berguru pada Syaikhona Kholil Bangkalan.

Selain berhasil mencetak para santri-santrinya menjadi kiai, Syaikhona Kholil bangkalan adalah salah satu kiai yang menjadi penentu berdirinya organisasi terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama yang disingkat (NU). Dalam proses pendiriannya para kiai NU tidak sembarangan mendirikan sebuah organisasi, dalam jangka dua tahun Kiai Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah (minta petunjuk kepada Allah), untuk mendirikan sebuah organisasi yang mewadahi para pengikut ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Meskipun yang melakukan istkharah adalah Hadratus Syaikh KH Hasyim As’ari, akan tetapi petunjuk (isyarah) tersebut tidak jatuh ke tangan Kiai Hasyim Asy’ari, melainkan isyarah tersebut melalui Syaikhona Kholil Bangkalan. Munculnya isyarah sebuah tongkat dan tasbih yang akan diberikan kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari melalui perantara Kiai As’ad Syamsul Arifin, yang merupakan tanda akan berdirinya sebuah organisasi besar yakni jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). para ulama pendiri NU jelas bukan sembarang ulama. Mereka orang-orang khos yang memiliki kualitas keimanan yang luar biasa di zamannya. Salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Hasbullah, selain pendirian NU kepada kepada KH Hasyim Asy’ari, beliau meminta persetujuan waliyullah tanah Jawa. Yaitu Kanjeng Sunan Ampel.
mari berflashback awal mulanya berdirinya nahdlatul ulama
Keresahan Kiai Hasyim Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.

Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.
Tongkat “Musa”
“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”

Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat. Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenang-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat. Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jam'iyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.

Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi. Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Abdullah untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie juga meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.
subhAnaallah.

sahabatku yang dirahmati Allah,
Rapat pembentukan NU diadakan di kediaman Kiai Wahab dan dipimpin oleh Kiai Hasyim. September 1926 diadakanlah muktamar NU yg untuk pertama kalinya yg diikuti oleh beberapa tokoh. Muktamar kedua 1927 dihadiri oleh 36 cabang. Kaum muslim reformis dan modernis berlawanan dgn praktik keagamaan kaum tradisional yg kental dgn budaya lokal. Kaum puritan yg lebih ketat di antara mereka mengerahkan segala daya dan upaya utk memberantas praktik ibadah yang dicampur dgn kebudayaan lokal atau yg lbh dikenal dgn praktik ibadah yg bid’ah. Kaum reformis mempertanyakan relevansinya bertaklid kepada kitab-kitab fiqh klasik salah satu mazhab. Kaum reformis menolak taklid dan menganjurkan kembali kepada sumber yg aslinya yaitu Alquran dan hadis yaitu dgn ijtihad para ulama yg memenuhi syarat dan sesuai dgn perkembangan zaman. Kaum reformis juga menolak konsep-konsep akidah dan tasawuf tradisional yg dalam formatnya dipengaruhi oleh filsafat Yunani pemikiran agama dan kepercayaan lainnya. Bagi banyak kalangan ulama tradisional kritikan dan serangan dari kaum reformis itu tampaknya dipandang sebagai serangan terhadap inti ajaran Islam. Pembelaan kalangan ulama tradisional terhadap tradisi-tradisi menjadi semakin ketat sebagai sebuah ciri kepribadian Mazhab Imam Syafii merupakan inti dari tradisionalisme ini . Ulama tradisional memilih salah satu mazhab dan mewajibkan kepada pengikutnya krn di zaman sekarang ini tidak ada orang yg mampu menerjemahkan dan menafsirkan ajaran-ajaran yg terkandung di dalam Alquran dan sunah secara menyeluruh.

Nah, inilah kenapa kita harus bermazhab salah satu dari mahzab 4.

Friday, 30 October 2015

Ada Apa Dengan NU dan PKS

Ditulis oleh : Generasi Muda NU
Sumber
***

Beberapa hari yang lalu secara tak sengaja saya membaca postingannya salah seorang Intelektual Muda NU yakni Gus Rijal Pakne Avisa ( Rijal Mumazik Zionis ). Dimana dalam postingan tersebut beliau menceritakan tentang “pertempuran” dua orang santri yang berbeda pilihan terkait dengan capres cawapres kali ini. Parahnya lagi kedua santri ini sama-sama membawa bawa nama gurunya untuk melegitimasi pilihannya, padahal guru dari kedua santri ini bersikap netral alias tidak mendukung pihak manapun.

Tentu apa yg di sampaikan oleh Gus Rijal diatas bukanlah hal yg bersifat kasuistik saja, justru saya melihat bahwa paparan beliau ini merupakan cerminan dari kondisi kaum Nahdliyyin saat ini yg juga saling gontok – gontokkan gara-gara terlalu euphoria dan latah dalam mendukung salah satu calon. Bagi kami mendukung salah satu pasangan itu boleh bahkan mungkin harus, namun menghargai pilihan saudara kita juga wajib, sehingga meskipun kita berbeda pilihan namun persatuan tetap bisa terjaga dan tentunya tidak membuat kita saling berpecah belah.

Yah itulah dunia politik praktis yang sering dikatakan orang sebagai dunia yangg keras, panas dan kejam, bahkan salah seorang pengamat politik dan budayawan Bekasi Komaruddin ibnu Mikam pernah mengatakan bahwa dalam politik itu hanya ada dua opsi, berani membunuh atau rela di bunuh. Itu pula yg sering kami saksikan dalam dunia politik praktis di Indonesia, dimana kebohongan, kelicikan, menjegal orang lain, inkonsisten dll sudah dianggap sebagai hal yg biasa. Sebaliknya obyekstifitas, sportifitas dan nalar sehat pun menjadi tumpul kalau sudah berada dalam kubangan lumpur politik praktis. Dalam politik dalam membela parpol maupun tokohnya bukan berdasarkan kebenaran, namun atas dasar fanatisme belaka.

Sebagai contoh pada postingan kami kemarin yg menyoroti salah satu parpol pendukung pasangan tertentu, beragam komentar pun datang dan mengalir dengan deras, baik yang pro dengan postingan admin maupun yang kontra. Bagi kami pro kontra dalam sebuah hal itu adalah hal yg biasa, asalkan argumen yg dibangun memiliki dasar yang bisa dipertanggung jawabkan, dan bukan hanya sekedar pembelaan yang membabi buta. Dari beragam komentar yg kontra dengan postingan admin kemaren, minimal ada dua hal yg menurut saya layak untuk saya kemukakan disini.

1. Komentator yg kontra dg admin sepertinya sengaja mencari –cari alasan untuk bisa menyerang admin dengan membelokkan subtansi postingan kearah lain sehingga mereka solah-olah menemukan alasan kuat guna menyerang admin. Dalam postingan kemarin sudah berulang kali admin menegaskan baik dalam prolog maupun epilog postingan, bahwa admin tidak memihak pasangan manapun dan bahwa postingan tersebut BUKAN SEDANG MEMBICARAKAN soal pasangan capres dan cawapres manapun, tapi hanya menyoroti sikap salah satu partai pendukung koalisi semata. Namun mereka sengaja menggiring opini bahwa admin menyerang pasangan tertentu, padahal anggapan tersebut jelas bathil dan penuh rekayasa.
Bagi admin membicarakan salah satu parpol pendukung pasangan manapun tidak ada kaitannya dengan pasangan tersebut, karena kami sudah biasa melakukan kritik, terhadap parpol, ormas ,harokah dan gerakan - gerakan lainnya jauh sebelum musim pilpres. Kalaupun kami sekarang mengkritik salah satu parpol disaat musim pilpres, maka itu hanya kebetulan saja dan sama sekali tida ada nuansa politisnya.

2. Ada komentator yg mengklaim sebagai warga NU namun anehnya justru menyerang admin dan lebih membela PeKaeS. Akun-akun yg mengaku NU namun membela peKaeS ini pun mulai menyerang admin dengan berbagai cara, mulai mempertanyakan keNUan admin, menyindir kelakuan buruk admin, biang provoktif, skuler, liberal,hingga anggapan antek jokowi.

Coba teman - teman cermati dengan baik dan dengan hati jernih, sejak kapan warga Nahdliyyin lebih membela PeKaeS ketimbang teman - temannya sendiri sesama warga NU ? Padahal selama ini yg saya tau bahwa warga NU hingga kini masih tetap konsisten dalam menolak faham Wahhabi dan varian - variannya, atau yg berbau bau Wahhabi. Kalau apa yang di lakukan admin ini salah, OK lah kami bisa memaklumi, tapi sejauh ini kami masih berkeyakian bahwa apa yg kami lakukan masih dalam batas kewajaran, karena HANYA MENAGIH JANJI saja, ya MENAGIH JANJI agar PeKaeS konsisten dengan ucapannya. Lalu dimana letak kesalahan yg di lakukan admin ini ? Silahkan anda simpulkan sendiri siapa mereka ini sebenarnya.

Sekali lagi kepada teman-teman dan suadaraku Ummat Islam Khususnya warga Nahdliyyin, marilah kita jaga persatuan dan kesatuan, perbedaan pilihan jangan di jadikan alasan untuk berpecah belah, dan marilah kita berdoa semoga pemilu kali ini bisa menghasilkan pemimpin yg terbaik bagi bangsa, Negara dan agama ini.

Kami Generasi Muda NU berjanji akan menerima siapapun presiden terpilih nanti dengan ikhlas dan lapang dada. Bagi kami Pasangan capres dan cawapres yg ada saat ini adalah tokoh - tokoh terbaik anak bangsa ini yg sudah selayaknya kita dukung dan hormati bersama sama.
Sekali lagi, apapun pilihan kita, jangan sampai membuat kita bercerai berai, waspadai pihak2 luar yg berusahan memecah belah kesatuan kita. Salam Nahdliiyin.

Monday, 26 October 2015

Ini Kenapa Saya Benci PKS

@Mas Nuruddin :
:::: 1. Lha kan mereka temen2 fbku mas, jadi aku tau bahwa mereka itu ikhwan PKS :')Kenapa orang PKS mem-bully salafi? Karena sampai hari ini, Salafi lah yang paling gencar mengkritik PKS (dan juga gerakan lain). Bahkan, sejak dulu (jaman aku SMA), yang diserang salafi selalu IM. Kalo gak salah, sampe nyebut Qardhawi anjing-anjing neraka segala.

Karena mereka temenku juga, maka nama mereka disamarkan, soale kalo yang temenan ama FB mereka, pasti tau kan jadinya gak enak  
Sebelum memintaku husnudzan, mohon masnya husnudzan sama akuwh ya :').

Salah satu tanda masnya udah kena 'racun' mereka ya gitu tuh. Belain mereka apapun yang terjadi. Termasuk nyuruh orang husnudzan ke pks, nyuruh orang tabayyun, nyuruh orang memahami dan toleran ke pks, tanpa melakukan itu semua terlebih dulu. Bukan tidak mungkin, suatu saat bila ada perbedaan antara MD dan PKS, masnya akan cenderung melihat dari sisi PKS terlebih dulu.Mungkin masnya lebih banyak membaca "Buku PKS", "Majalah PKS", "website PKS", dan tulisan-tulisan orang PKS, daripada dari Buku MD, Majalah MD, dan tulisan orang MD sendiri. Secara politik, banyak yang pilihannya beralih dari PAN ke PKS. Secara edukasi, ada yang menyekolahkan anaknya ke SDIT, bukan ke SDM. Tidak dapat dipungkiri, inilah bukti bahwa racun mereka mulai menyebar.

Ada humor mas,
Dalam suatu pertemuan antara ormas Islam di Jakarta, seorang pengurus NU mengeluh kepada pengurus Muhammadiyah, "Warga NU sekarang lagi prihatin. Banyak masjid yang dulunya ada doa qunutnya sekarang tidak ada lagi. Yang dulunya ada tradisi tahlil, sekarang tidak ada lagi," katanya.Maksud hati ingin menyindir pengurus Muhammadiyah yang biasa shalat subuh tak pakai qunut dan tidak suka tahlil. Tapi pengurus Muhammdiyah malah berang. "Kalau NU cuma qunutnya yang dicuri. Kalau Muhammadiyah, masjid-masjidnya sekalian dibawa kabur orang," katanya.Kali ini pengurus NU dan Muhammadiyah satu hati kalau-kalau ada gerakan sistematik dari kelompok politik dan faham keagamaan tertentu yang merebut masjid-masjid untuk kepentingan tertentu. Itu humor muncul 2008, dan itulah yang nyata2 terjadi di masyarakat mas. Itulah kenapa MD gencar melakukan sertifikasi masjid dan AUM, langkah yang belakangan juga ditiru NU. MD juga sangat keras pada organisasi 'transnasional' gitu mas (Gak cuman PKS sih, tapi intinya ya itu tadi, PKS dan HTI). Paling panas adalah tahun 2006. Dulu, orang2 itu diberi 2 pilihan, kurang lebih gini, "Kalau kalian mau tetep di MD, tinggalkan organisasi yang lain. Kalo mau di tempat lain, silakan keluar dari sini." Malah ada surat keputusan resminya. Masnya bisa coba baca ini
:  HYPERLINK "http://" \t "_blank" http://ainspirasi.wordpress.com/2008/11/04/fatwa-muhammadiyah-tentang-pks/

Di sana disebut kata infiltrasi, PKS, dan yang semacamnya. Walau tidak secara langsung menyatakan bahwa PKS menyusupi MD, tapi ada pesan tersirat yang maksudnya demikian. Coba masnya googling "Muhammadiyah PKS", dan masnya akan bisa memahami dinamika yang terjadi. Tapi jangan malah baca yang sumbernya dari PKSnya mas, sama aja bo'ong kalo gitu, hehehe

Di luar sana, warga MD juga selalu dibikin bingung dengan kelakuan PKS yang seakan menarik MD kepada PKS. Ada orang-orang yang bersikeras bahwa PKS bukan MD (membela kemurnian MD), tapi ada juga yang terlalu "toleran". Ya, "terlalu toleran", penyakit paling kronis dari warga NU dan MD. Mereka terlalu toleran, dan terus ditekan untuk selalu demikian, hingga akhirnya mereka justru diterkam dan jadi korban :')

Salah satunya, ya mengenai masjid tadi. Di suatu daerah di Yogya, ada masjid yang mau dibuat plakat. Pengurusnya aplud di grup MD. Warga MD mendukung. Tapi ada oknum PKS yang menyebarkan racun, "Ngapain masjid dikasih plakat? Masjid kan milik umat. Gak usah dikasih plakat gituan." Sungguh Mas, mereka itu manis kata-katanya, tapi sangat beracun pada hakikatnya. Kenapa aku bilang gitu? Karena di Tegal, temenku pernah cerita bahwa masjid di perumahannya dimasuki orang2 PKS yang merupakan warga baru di sana. Saat mereka mulai menguasai, mereka pun semangat untuk mnegajak warga ke masjid. Tentu warga enggan karena amalan dan pengajaran di masjid itu menjadi berbeda dengan sebelumnya. Singkat cerita, Allah mengembalikan masjid itu kepada umat, sehingga kepengurusan pun diganti. Setelah itu, apa yang terjadi? Mereka yang dulu menyeru untuk pergi ke masjid, malah sekali pun tidak lagi ke masjid itu. Mereka lebih memilih shalat d tempat yang jauh.

Dari situ, bisa disimpulkan bahwa himbauan kader PKS pada MD utk tidak memberi plakat pada masjidnya juga dilatarbelakangi tujuan yang sama : pembajakan. Untunglah para kader MD di grup itu tidak mudah dibodohi. Mereka mengikuti perkembangan selama ini, termasuk mengetahui penyusupan PKS di tubuh MD. Mereka juga tau mengenai maklumat Muhammadiyah itu yg aku kasih linknya tadi.

Tegal dan Yogya terpisah ratusan km, tapi ada motif sama. Makanya aku gak mau capek-capek lagi menuliskan kata "oknum". Aku juga gak pernah membicarakan PKS sekadar dalam konteks politik, because there's something big, something strange about them. Dan kenyataan ini dirasakan bukan cuma olehku saja mas. Ini sudah jadi rahasia umum yang diketahui orang (tentunya yang tidak dalam pengaruh PKS)

Muhammadiyah itu baik mas. Memang sayang, banyak anak MD dan NU hilang arah, dan akhirnya ikut liqo'. Bukan mereka yg salah, tapi MD dan NU yg kurang bisa menyediakan 'sarana' yg memadai. Aku juga pernah ikut mentoring Mas :')

Itu yg bikin (awalnya) aku toleran ke mereka. Waktu aku mendapati temen - temen yang mau terjerumus ke Salafi, aku selalu sarankan mereka buat rajin ikutan mentoring. Waktu ada temenku yang terlalu "fanatik" NU dan MD, aku selalu sampaikan prinsip ala tarbiyah IM 'kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, dan saling toleran dalam hal yang tidak kita sepakati'. Hingga akhirnya konflik Mesir pasca - jatuhnya Mursi menyadarkanku mas.

Saat itu, terbukalah semua borok IM. Terutama saat mereka MENENTANG serta MENCACI MAKI DOSEN DAN ULAMA Al Azhar, institusi tertinggi dalam dunia Islam (Sunni). Sejak saat itu aku bertobat dari "kesalahan" masa laluku yang terlalu toleran pada IM/PKS.

Aku ndak pernah mempermasalahkan kader PKS yang korupsi, kader mereka yang mesum, dll. Memang, ada orang PKS yang akhirnya tidak suka PKS karena hal tsb. Tapi aku ndak peduli. Ketidaksukaanku ke PKS lebih karena hubungan mereka dengan IM, dan kelakuan IM yang sudah kurang ajar di Mesir sana. Sekelumit kekecewaanku di antaranya aku tuangkan di sini (monggo kalau berkenan baca)

Dalam The Muslim 500 pun sudah di bahas dalam "Issues of the Day" hal. 178 (The Fight for Azhar). Kalau mau baca versi Indonesia, masnya bisa baca di sini

Jadi, sekali lagi dipahami bahwa kita membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar PKS. Artinya, meski ada orang di PKS paling bersih pun, ya dia tetap IM, dan karena itu aku ndak suka. Meski ada orang yang keluar dari PKS (katanya untuk menyelamatkan gerbong dakwah), aku tetap ndak suka, karena hakikatnya mereka itu ya IM.

Sikap ini bukan cuma aku yang mengambil. Ustadz Sarwat, pengelola rumahfiqih.com juga demikian. Sedikit cerita, dulu, banyak jamaahnya yang orang PKS, sampai beliau (sampai sekarang) dijuluki ustadz PKS. Bahkan, dulu beliau juga aktif mengelola tanya-jawab di eramuslim.com. Ketika beliau kritis pada PKS, astaghfirullah, kelakuan jamaahnya itu seperti orang yang tak punya adab. Itulah bahayanya virus PKS.
Di Mesir, gelar Yusuf Qardhawi akan (atau malah sudah) dicabut oleh Al Azhar. Abdullah bin Bayyah, keluar dari organisasi Persatuan Ulama Internasional (organisasi bentukan Qardhawi - IM), padahal beliau tadinya menjabat wakil dan kemudian justru mendirikan organisasi baru, Dewan Ulama Islam. (Baca)

Kalangan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) juga memahami betul bahwa kader - kader PKS selalu berusaha menguasai mereka. Bahkan mereka nggak segan membuat page Info Mesir, dan yang semacamnya, padahal berita-berita di dalamnya hanya mengambil dari sisi IM saja. Mereka juga terus menerus memberikan imej bahwa Mesir dan Al Azhar adalah IM, demi menarik simpati masyarakat awam di Indonesia.

Jadi, dengan amat terpaksa, saran dari masnya harus aku kembalikan lagi tanpa mengubah satu huruf pun :
"saranku sh kl melihat sesuatu jgn subjektif jgn dr 1sudut pandang saja"

Apalagi dari sudut pandang yang jelas keliru dan penuh racun dari mereka.

:::: 2. Golongan "itu" yang dimaksud itu syi'ah pok mas? Masnya baca dari link yang aku kasih kan? Bener mas, itu biar bombastis aja, menarik perhatian massa walaupun mungkin ada beberapa oknum yang beneran syi'ah juga.

Aku juga udah tuliskan di situ, di komentar sebelumnya, bahwa tujuanku bikin postingan itu :
a. Buat nyindir mereka [IM] yang selama ini sok-sok anti-Syi'ah, eh ternyata "Nabi"-nya [Morsi] malah main mata ama Syi'ah [Iran] 
b. Makin menguatkan keyakinan kita akan goyahnya akidah dan keyakinan mereka.
c. Mengungkap kemunafikan dan standar ganda mereka.
d. Terus memperingatkan semua pihak agar tidak berlaku naif (terlalu toleran kepada pihak-pihak yang intoleran).

:::: 3. Demikianlah mas, sekelumit jawabanku. Tentu ini belum semuanya. Semua ini aku dapetnya juga gak instan, melainkan butuh waktu dan perjalanan yang penjang. Karenanya, aku juga ndak memaksa masnya buat sadar secepat kilat.
Tambahan : mereka lah (bersama HTI dan Salafi) menjadi pihak yang merusak hubungan NU-MD yang sudah mulai mesra selama 20 tahun ini. Kenapa? Karena oknum mereka kadang dengan mudahnya mengangkat isu-isu khilafiyah. Ketika warga NU resah, MD juga lah yang kena. Karena dilihat dari kacamata NU, ya MD, PKS, dll itu sama saja. Dan kenyataannya memang masyarakat masih sulit membedakan satu per satu. Buktinya masnya ikut mentoring mereka, aku juga. Maka kita tidak heran jikalau hari ini perdebatan yang sudah 20 tahun ditinggalkan, kini mulai diangkat lagi :')

Karenanya, kalau mereka musnah, tentunya kita berharap hubungan mesra yang sejati dapat kembali terjalin. Maka apa yang orang bilang, bahwa "Kalau masalah NU-MD sudah selesai, maka sebagian masalah bangsa ini juga selesai", semoga ada benarnya.

Dan aku rasa tidaklah berlebihan kalau aku selalu sarankan teman-teman untuk simply pilih NU dan/atau Muhammadiyah. Bukannya yang lain pasti sesat atau apa, tapi 2 inilah yang paling terjamin track recordnya, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Karena itu mas, mari kembali ke Muhammadiyah. Masnya nggak perlu lagi menyembah Mursi dan me-nabi-kan LHI. Kita kembali pada ajaran Islam, agama penyeru Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad... 

Kalo masnya mau sharing cerita, mungkin @Rauf bisa bantu. Dia Muhammadiyah, ikut mentoring, tapi sudah menemukan arah. Masnya nggak sendirian. Ada banyak teman2 yang struggle untuk keluar dari "candu" PKS. Semoga berhasil mas. Kalo udah berhasil, jangan sungkan membantu menyadarkan korban - korban lain yang masih saja kecanduan ~
Sekali lagi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan Mas...
Sungguh Allah Maha Pemberi Taufik, tunjukilah kami pada jalan-jalan yang terbaik...
Aamiin

Oleh : Muntazal Admi
Sumber

Saturday, 24 October 2015

Foto Lukisan KH Hasyim Asy'ari Dalam Peringatan Hari Santri 2015

" ah emang ya, tega benerr dah "

Wedeh abis Hari Santri Nasional ( HSN) kemaren banyak juga tuh ternyata yang ngucapin selamat. Tapi sambil pake embel share an artikel di Republika, Islamedia, NU Garis Lurus (NUGL), yang ada foto Hadrotu Syeikh Hasyim Asy'ari tanpa jenggot itu lho.

" Masya Allah…Mbah buyutku jenggotnya kemana? Teganya…” tulis Ipang Wahid melalui akun Facebook pribadinya. Tapi sayangnya saya telat jeh liat postingan aslinya. Karna sudah dihapus, dan sebagai gantinya beliyo, Gus Ipang nya sudah minta maaf atas ke iuew an yg disebabkan oleh karena postingan beliyo tersebut. *heleh heleh

Apa daya, namanya dunia maya, sekali post yang bau sara, di ss lansung bisa tersebar kemana mana. Wah kalo udah begini bisa jadi panjang ceritanya. Dan akhirnya muncul berkali kali di beranda saya. Kan tadinya ndak mau komentar dan biasa aja, sayanya jadi tergoda. Kalo kata gus Ipang sih " Komen salah. Nggak komen geregetan."

Walhasil karena penasaran jadilah googling foto dan lukisan Hadrotus Syeikh. Pengen tau kayak gimana. Setelah googling, eh ternyata emang beneran berjenggot semua . Lagian lukisan yang punya Gus Ipang juga katanya emang berjenggot semua sih. Duh, kalau saya sih boro boro punya, ada juga potret dirimu sahaja dek yang tersimpan dalam dompetku. Paling enggak bisa bikin tetep senyum, walau melihat isinya yang carut marut kering kerontang itu.

Terus itu kok sampai ada yang ga berjenggot itu darimana? Soalnya saya coba googling pake keyword, " hasyim asy'ari tanpa jenggot " , eh malah yang muncul berita dan artikel seputar HSN yang iuewh itu ( sebelum ada konfirmasi di Republika).
Eh usut punya usut, di situsnya tebuireng.org itu ada satu posting yang pake foto tanpa jenggot. Adalah sampul buku " Guru Sejati Hasyim Asy'ari " karangan mas Masyamsul Huda yang make sampul pake foto beliyo Hadrotus Syeikh yang tanpa jenggot ( foto bawah kedua dari kiri).

"Sosok KH. Hasyim Asy’ari adalah pribadi yang sangat sederhana, tidak mau menonjolkan diri, bahkan untuk difoto sekalipun, beliau sangat berkeberatan. Nyaris hanya sebuah foto yang terlihat samar ketika Mbah Hasyim sedang dalam pertemuan dengan Laksamana Maeda. Maka, tidaklah heran bila sampai hari ini belum satupun foto KH. Hasyim Asy’ari yang bisa dikatakan sesuai dan cocok dengan wajah asli Beliau, masih banyak yang berdebat soal ada jenggot atau tidak ada jenggot, termasuk baju kesukaan Beliau? Sebab menurut yang sempat menemuai Beliau pada masa itu, KH. Hasyim Asy’ari itu selalu rapi, wangi dengan baju jas model krah shanghai dan selalu memegang tonggat rotan yang multi fungsi; biasa digunakan untuk melempar pintu kamar santri agar bangun shalat subuh, atau memukul santri yang nakal (tentu mukulnya terukur dan tidak membahayakan).

Menurut pendapat penulis, hingga hari ini belum pernah ada penyajian sejarah Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Tebuireng yang bisa dikatakan akurat. Dalam hal soal foto pribadi saja, masih banyak pihak memperdebatkan, apalagi sejarah, nama dan kondisi Tebuireng masa lalu, pastilah banyak versi yang sumbernya bisa jadi dari utak atik ghatuk(dicocok-cocokkan). " gitu kata mas Masyamsul Huda ( eh bow, kok namamu agak iuw juga ya mas. Aku jadi....ah sudahlah.

Diluar berjenggot atau enggak nya foto beliyo, demi melihat foto lukisan yang di HSN itu saya akhirnya faham kenapa Gus Ipang sampe geregetan. Lha coba anda liat lagi foto itu. Coba anda zoom in, bandingkan sama foto2 lainnya. Zoom out....zoom in lagi...zoom out lagi..zoom in lagi...Terus sampe filmnya the end sambil diiringi musing jeng jeng jreng. *lupakan

Dalam foto lukisan yang di HSN, beliyo hadrotus syeikh keliatan lebih muda. Bener an. Saya saja pernah dibilang lebih muda 50 Tahun gara gara abis potong jenggot, dulu. Padahal umur belum segitu, pun setengahnya (waktu tulisan ini dibikin sih belum...serius belom. Menurut perhitungan tahun Masehi sih). Kan ndak macem, wong beliyo sudah syeikh, sudah mumpuni di bidang tasawuf kan harusnya jenggotnya ya panjang. Jadi mencirikan bahwa otak logikanya sudah menjulur sampai ke hati. Kayak yang kata di pidatonya KH Said aqil kemaren. Perkara nanti jadi dibilang goblok, ya memang kalau menurut beliyo dan hadist dan juga hikayat para sufi begitu, ya gimana lagi. Maksudnya ya goblok karena pertimbangan logikanya sudah ga penting, yang penting bashirah dalam hatinya. Dicerminkan dengan jenggot yang panjang itu.

Balik ke Gus Ipang nihhh.....

Gus Ipang, yang masih naik daun dan dalam masa gagah gagah nya itu kan tentunya jadi gregetan. Ya mbok menowo kegagahannya jadi tersingkirkan gara gara pesona foto lukisan Hadrotus Syeikh itu, kan bahaya. Jadi semacam resah galau gregetan gundah gulana gitu. Pernah ndak, kepikiran gimana perasaannya Gus Ipang? Kok ya tega bener yang melukis itu lhooo. Kalo sudah begini sih saya juga cuma bisa bilang, " Yang sabar ya Gus, mungkin ini tanda tanda mau naek maqom nya."

Saya juga sebagaimana yang lain, maklum kalo beliyo Hadrotus Syeikh kayaknya lebih tok cer kalo foto nya make jenggot. Bukan apa apa, baik Gus Ipang maupun saya, kan sama sama pria muda yang bahkan belum menginjak paruh baya. Tentu sangat terganggu dengan hadirnya pesona kegagahan Hadrotus syeikh ini. Lagian Kan ya ndak macem, wong beliyo sudah syeikh, sudah mumpuni di bidang tasawuf kan harusnya jenggotnya ya panjang. Jadi mencirikan bahwa otak logikanya sudah menjulur sampai ke hati. Kayak yang kata di pidatonya KH Said aqil kemaren. Perkara nanti jadi dibilang goblok, ya memang kalau menurut beliyo dan hadist dan juga hikayat para sufi begitu, ya gimana lagi. Maksudnya ya goblok karena pertimbangan logikanya sudah ga penting, yang penting bashirah dalam hatinya. Dicerminkan dengan jenggot yang panjang itu.

Lalu, itu yang foto paling atas?

Ohh, itu saya dapatnya dari Republika jeh. Katanya sih kiriman nya Kang Abiq ( Habiburrakman el Shirazy , bener gitu ga sih tulisannya? ). Saya coba cari link nya dan baru menu satu blog. Dan artikel nya cukup oke. Judulnya RESOLUSI JIHAD (Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945). Terbit Sabtu, 15 September 2014.

Yang jelas diluar saya setuju sama model jenggot beliau yang mana, adalah lebih baik kita membaca bagaiman pribadi beliyo nya. Lagian beliyo gagah baik pake jenggot ataupun enggak. Ndak kayak kita kita ini, pake jenggotnya buat gaya gayaan, padahal taraf gagah nya masih blepetan. Jadi, kalo yang ndak ad jenggotnya ya ndak usah nggoyo pake minyak segala biar rimbun jenggotnya. Kalau yang udah terlanjur tumbuh ya dirapihkan to ya. 

Jadi semoga beliyo Hadrotus Syeikh Hasyim Asy'ari senantiasa diberkahi oleh Allah SWT dan kita menjadi penerus perjuangan beliau melalui cara cara yang kita mampu.

Oh iya, kalau beberapa link ini yang sya kunjungi barangkali mas mba nya, atau kamu juga mau berkunjung juga dek..silahkan sahaja. Tapi kamu berkunjung ke hati mas aja deh sinih..  

1. Buku Guru Sejati Hasyim Asy'ari ( )
2.Konfirmasi Penulis buku tsb ( http://tebuireng.org/klarifikasi-penulis-novel-guru-sejati-hasyim-asyari/ )
3. Foto yang paling atas ( http://maynahdliyin.blogspot.co.id/2012/12/resolusi-jihad-spirit-rakyat-dalam.html?m=1 )


Thursday, 22 October 2015

MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)

Bagaimanapun, di Negeri ini Muhammadiyah (MD) dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah dua organisasi terbesar. Dan nyatanya perbedaan diantara kedua adalah yang paling panjang. Artikel ini adalah secuil pandangan. Pembahasan lebih lengkapnya, bisa di tinjau dalam Fiqih Ilktilafiah NU dan MD. Silahkan disimak, semoga bermanfaat.

***

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.
Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).
Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:

1. Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya. 
2. Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3. Baca doa Qunut Shubuh.
4. Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5. Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6. Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7. Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.
Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.
Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?
Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.
Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada. (Diedit ulang dari tulisan Ustadz Sulaiman Timun Mas).

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 25 Juni 2014

Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Sumber 4
Sumber 5

SILSILAH SANAD ULAMA' AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (Termasuk NU) SAMPAI SANADNYA KE ROSULULLAH SAW.

1. Nabi Muhammad SAW
2. Sayidina Ali
3. Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Ja’far)
4. Wasil bin Ato’
5. Amr bin Ubaid
6. Ibrohim Annadhom
7. Abu Huzail Al-Alaq
8. Abu Hasi Adzuba’i
9. Abu Ali Adzuba’i
10. Imam Abu Hasan Ala’asyari (Pendiri Faham “AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH”) 234 H Karangannya: Kitab Maqolatul Islamiyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al-Luma’, dll
11. Abu Abdillah Al Bahily
12. Abu Bakar Al Baqilany, karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al bayan, Al Imdad, dll.
13. Abdul Malik Imam Haromain Al Juwainy, karangannya : Kitab Lathoiful Isaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba’in, Al kafiyah.
14. Abu hamid Muhammad Al Ghozali. Karnannya: Kitab Ihya Ulumuddin, Misyakatul Anwar, Minhajul Qowim, Minhajul Abidin dll.
15. Abdul hamid Assyeikh Irsani. Karangannya: kitab Al Milal Wannihal, Musoro’atul Fulasifah dll.
16. Muhammad bin Umar Fakhruraazi, Karangannya: Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib, Matholibul ‘Aliyah, Mabahisul Masyriqiyah, Al Mahsul Fi Ilmil Usul.
17. Abidin Al Izzy, karangannya: Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam.
18. Abu Abdillah Muhammad As Sanusi, Karangannya: Kitab Al Aqidatul Kubro dll.
19. Al Bajury, karangannya: Kitab Jauhar tauhuid Dll.
20. Ad Dasuqy, karangannya: Kitab Ummul Barohin, dll.
21. Ahmad Zaini Dahlan, karanggannya: Kitab Sarah jurumiyah, Sarah Al Fiyah, dll.
22. Ahmad Khotib Sambas Kalimantan, Karangannya: Kitab Fathul ‘Arifin, dll.
23. Muhammad Annawawi Banten Karangannya: Syarah Safinatunnaja, Sarah Sulamutaufiq, dll. Yang Mayoritas Ulama Di Indonesia memakai Karangan Syeikh Nawawi Albantaniy sebagai Kitab Rujukan.
24. Mahfud Termas, muridnya: – Arsyad Banjarmasin – Syech Kholil Bangkalan Madura – Abdi Shomad Palembang
25. Hasyim Asy’Ari (Pendiri NU) Sejumlah murid yang berhasil dicetak menjadi ulama besar oleh Syaikhona Kholil bangkalan adalah, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng Jombang), KH Wahab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), KH Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil Harun (Rembang), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak (Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan). Dari sekian santri Syaikhona Kholil pada umumnya menjadi pengasuh pesantren dan tokoh NU seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah. Bahkan Presiden pertama RI Soekarno, juga pernah berguru pada Syaikhona Kholil Bangkalan.
Selain berhasil mencetak para santri-santrinya menjadi kiai, Syaikhona Kholil bangkalan adalah salah satu kiai yang menjadi penentu berdirinya organisasi terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama yang disingkat (NU). Dalam proses pendiriannya para kiai NU tidak sembarangan mendirikan sebuah organisasi, dalam jangka dua tahun Kiai Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah (minta petunjuk kepada Allah), untuk mendirikan sebuah organisasi yang mewadahi para pengikut ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Meskipun yang melakukan istkharah adalah Hadratus Syaikh KH Hasyim As’ari, akan tetapi petunjuk (isyarah) tersebut tidak jatuh ke tangan Kiai Hasyim Asy’ari, melainkan isyarah tersebut melalui Syaikhona Kholil Bangkalan. Munculnya isyarah sebuah tongkat dan tasbih yang akan diberikan kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari melalui perantara Kiai As’ad Syamsul Arifin, yang merupakan tanda akan berdirinya sebuah organisasi besar yakni jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).
para ulama pendiri NU jelas bukan sembarang ulama. Mereka orang-orang khos yang memiliki kualitas keimanan yang luar biasa di zamannya. Salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Hasbullah, selain pendirian NU kepada kepada KH Hasyim Asy’ari, beliau meminta persetujuan waliyullah tanah Jawa. Yaitu Kanjeng Sunan Ampel. mari berflashback awal mulanya berdirinya nahdlatul ulama Keresahan Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.

Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri. Tongkat “Musa”
“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23. Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.” Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat. Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan. Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat. Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23. Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jam'iyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan. Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi. Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam. Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya. Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU). Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Abdullah untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya. Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie juga meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie. subhAnaallah, sahabatku yang dirahmati Allah Rapat pembentukan NU diadakan di kediaman Kiai Wahab dan dipimpin oleh Kiai Hasyim. September 1926 diadakanlah muktamar NU yg untuk pertama kalinya yg diikuti oleh beberapa tokoh. Muktamar kedua 1927 dihadiri oleh 36 cabang. Kaum muslim reformis dan modernis berlawanan dgn praktik keagamaan kaum tradisional yg kental dgn budaya lokal. Kaum puritan yg lebih ketat di antara mereka mengerahkan segala daya dan upaya utk memberantas praktik ibadah yang dicampur dgn kebudayaan lokal atau yg lbh dikenal dgn praktik ibadah yg bid’ah. Kaum reformis mempertanyakan relevansinya bertaklid kepada kitab-kitab fiqh klasik salah satu mazhab. Kaum reformis menolak taklid dan menganjurkan kembali kepada sumber yg aslinya yaitu Alquran dan hadis yaitu dgn ijtihad para ulama yg memenuhi syarat dan sesuai dgn perkembangan zaman. Kaum reformis juga menolak konsep-konsep akidah dan tasawuf tradisional yg dalam formatnya dipengaruhi oleh filsafat Yunani pemikiran agama dan kepercayaan lainnya. Bagi banyak kalangan ulama tradisional kritikan dan serangan dari kaum reformis itu tampaknya dipandang sebagai serangan terhadap inti ajaran Islam. Pembelaan kalangan ulama tradisional terhadap tradisi-tradisi menjadi semakin ketat sebagai sebuah ciri kepribadian Mazhab Imam Syafii merupakan inti dari tradisionalisme ini . Ulama tradisional memilih salah satu mazhab dan mewajibkan kepada pengikutnya krn di zaman sekarang ini tidak ada orang yg mampu menerjemahkan dan menafsirkan ajaran-ajaran yg terkandung di dalam Alquran dan sunah secara menyeluruh. nah, inilah kenapa kita harus bermazhab salah satu dari mahzab 4, Sejak abad dua belas Hijriah yang lalu, dunia Islam dibuat heboh oleh lahirnya gerakan baru yang lahir di Najd. Gerakan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi dan populer dengan gerakan Wahabi. Dalam bahasa para ulama gerakan ini juga dikenal dengan nama fitnah al-wahhabiyah, karena dimana ada orang-orang yang menjadi pengikut gerakan ini, maka di situ akan terjadi fitnah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aliran Wahabi berupaya keras untuk menyebarkan ideologi mereka ke seluruh dunia dengan menggunakan segala macam cara. Di antaranya dengan mentahrif kitab-kitab ulama terdahulu yang tidak menguntungkan bagi ajaran Wahhabi. Hal ini mereka lakukan juga tidak lepas dari tradisi pendahulu mereka, kaum Mujassimah yang memang lihai dalam men-tahrif kitab. sahabatku semua yang dirahmati Allah, NU ADALAH SALAH SATU BENTENG AHLISUNNAH WALJAMAAH DI INDONESIA Apa itu ASWAJA ? Aswaja itu sebenarnya adalah singkatan dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Dalam istilah Ahlussunnah Wal-Jama’ah itu, ada tiga kata yang membentuknya. Ketiga kata itu adalah:

1. Ahl, yang berarti keluarga, golongan atau pengikut.
2. Al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah Maksudnya, semua yang datang dari Nabi, baik itu berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi
3. Al-Jama’ah, yang dimaksud dengan jama’ah disini adalah apa yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi pada masa Khulafaur Rasyidin (yaitu Khalifah Abu Bakr, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib). Kata al-Jama’ah ini diambil dari sabda Rasulullah< ,مَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ. “Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti al-jama’ah (kelompok mayoritas)”. Coba Nanti kamu lihat dalam kitab al-Mustadrak Juz I hal. 77 atau dalam Sunan Tirmiszi hadits no 2091. Hadits itu oleh Imam Hakim dianggap shohih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi.Ditempat yang lain Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (471-561 H/1077-1166 M) juga menjelaskan menjelaskan: فَالسُّنَّةُ مَا سَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْجَمَاعَةُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خِلاَفَةِ الأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ (الغنية لطالبي طريق الحق، ج 1 ص 80) “Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan beliau). Sedangkan al-Jama‘ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi pada masa Khulafaur Rasyidin yang empat, yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada mereka semua” (Lihat dalam kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, juz I, hal. 80).Lebih jelas lagi, Hadlratusysyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (1287-1336 H/1871-1947) menyebut-kan dalam kitabnya Ziyadat Ta’liqat (hal. 23-24) sebagai berikut : أَمَّا أَهْلُ السُّنَةِ فَهُمْ أَهْلُ التَّفْسِيرِ وَالْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ فَإِنَّهُمْ الْمُهْتَدُوْنَ الْمُتَمَسِّكُوْنَ بِسُنَّةِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ والْخُلَفَاءِ بَعْدَهُ الرَّاشِدِيْنَ وَهُمْ الطَّائِفَةُ النَّاجِيَةُ قَالُوْا وَقَدْ اجْتَمَعَتْ الْيَوْمَ فِي مَذَاهِبَ أَرْبَعَةٍ الحَنَفِيُّوْنَ وَالشَّافِعِيُّوْنَ وَالْمَالِكِيُّوْنَ وَالْحَنْبَلِيُّوْنَ وَمَنْ كَانَ خَارِجًا عَنْ هَذِهِ الأَرْبَعَةِ فِي هَذَا الزَْمَانِ فَهُوَ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ “ Adapun Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi SAW dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (al-firqah al-najiyah). Mereka mengatakan, bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat, yaitu pengikut Madzhab al-Hanafi, al-Syafi’i, al-Maliki dan al-Hanbali. Sedangkan orang-orang yang keluar dari madzhab empat tersebut pada masa sekarang adalah termasuk ahli bid’ah. ”Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa Ahlussunnah Wal-Jama’ah bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang hakiki. Tetapi Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi saw dan sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh para sahabatnya. Kaitannya dengan pengamalan tiga sendi utama ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah mengikuti rumusan yang telah digariskan oleh ulama salaf. 1. Dalam bidang aqidah atau tauhid tercerminkan dalam rumusan yang digagas oleh Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi. 2. Dalam masalah amaliyah badaniyah terwujudkan dengan mengikuti madzhab empat, yakni Madzhab al-Hanafi, Madzhab al-Maliki, Madzhab al-Syafi`i, dan Madzhab al-Hanbali. 3. Bidang tashawwuf mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H/910 M) dan Imam al-Ghazali Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku sebagai penganut Ahlussunnah Wal-Jama’ah maka mereka harus membuktikannya dalam praktik keseharian bahwa ia bnar-benar telah mengamalkan Sunnah rasul dan Sahabatnya.Sumber “fiqh Tradisionalis” untuk itu menjadi pelajaran bagi kita agar selalu berhati-hati dalam membaca atau membeli kitab-kitab terbitan baru, Inilah kejahatan & kebohongan aliran yang mengklaim sebagai Salafi, sesungguhnya mereka adalah Wahabi yakni ajaran yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi : namun meskipun demikian ahlussunnah waljamaah tetap kelompok terkuat dimuka bumi, namun sekte sekte yang berusaha menyesatkan tetap muncul dari kelompok yg menipu, atau yg tertipu, namun selama mereka masih muslim, maka mereka adalah saudara kita, kita berusaha mengobati kesalahan mereka semampunya, dg menyebarkan kebenaran di dunia maya dan lainnya semampu kita, dan selebih dari itu, kita terus berdoa agar Allah terus membantu pembenahan ummat ini Pesan untuk para simpatisan, pengikut, bahkan da’i salafi/wahabi ; mohon luangkan waktu sebentar, renungkan barang sejenak. Bahwa hati yang paling Allah kasihi ialah hati yang paling lembut terhadap saudaranya, paling bersih dalam keyakinannya dan paling baik dalam agamanya. InsyaAllah, jika hati tak sekeras batu, dada akan terasa lapang, pikiran pun tidak beku dan buntu. Semoga kita semua mendapat hidayah serta inayah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Akeh kang apal Quran Hadise  Seneng ngafirke marang liyane  Kafire dewe dak digatekke  Yen isih kotor ati akale Banyak yang hafal Quran dan Hadist, suka mengkafirkan orang lain, kafirnya sendiri tidak diperhatikan, (gara-gara) masih kotor hati dan akalnya. semoga Allah swt meluhurkan setiap nafas kita dg cahaya istiqamah, dan selalu dibimbing untuk mudah mencapai tangga tangga keluhuran istiqamah, dan wafat dalam keadaan istiqamah, dan berkumpul dihari kiamat bersama ahlul istiqamah semoga Allah swt menggantikan segala musibah kita dg anugerah, wahai Allah sungguh firman Mu adalah sumpah Mu yg Kau sampaikan pada kami, bahwa : SUNGGUH BERSAMA KESULITAN ADALAH KEMUDAHAN, DAN SUNGGUH BERSAMA KESULITAN AKAN DATANG KEMUDAHAN (Al Insyirah 6-7)

Disari dari beberapa sumber. semoga bermanfa'at, Amiin

Kiai Hasyim dan Syiah ( Sebuah Tanggapan)

Tulisan ini walaupun menggunakan subyek "saya", tapi jujur saja ini bukan tulisan saya pribadi. Tapi tanggapan orang lain. Jadi silahkan saja di simak, mudah mudah an bermanfaat.

***

Di koran Republika, tiap hari kamis pekan ketiga tiap bulan, ada suplemen khusus: Jurnal Islamia. Jurnal Islamia ini diterbitkan atas kerjasama antara Republika dengan INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations). Yang duduk di dewan redaksi Islamia, antara lain, adalah Dr Hamid Fahmy Zarkasyi & Dr Adian Husaini.

Di edisi hari Kamis kemarin (20 Juni 2013) tema yang diangkat adalah tentang Hadhratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari. Saya jarang baca Islamia sebenarnya, kecuali bila ada artikel yang ditulis Dr Adian Husaini. Tapi kali ini, karena temanya menarik, dan sepertinya memang memanfaatkan momentum film Sang Kiai, saya baca Islamia.

Ada lima artikel panjang yang membahas Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Dalam catatan ini saya ingin memberikan beberapa komentar saja dari artikel-artikel di jurnal Islamia itu. Saya merasa, ada cukup banyak warga Nadliyin yang kurang sreg dengan isi artikel-artikel di Jurnal Islamia itu.

[ 1 ]

Dalam artikel berjudul Kesesatan Agama Menurut KH Hasyim Asy’ari oleh seorang peneliti dari InPAS, Surabaya, tertulis:

“Beliau mengatakan dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama: Di zaman akhir ini tidak ada mazhab yang memenuhi persyaratan kecuali mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali). Adapun mazhab yang lain, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah adalah ahli bid’ah. Sehingga, pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti.”

Dalam artikel berjudul Jihad dan Pemikiran Sang Kiai oleh dosen STAI Lukmanul Hakim, Surabaya, tertulis:

“Demikian juga terhadap hal-hal yang menurutnya berpotensi memengaruhi akidah umat tidak lepas dari perhatiannya. Sebagai bukti, dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, Kiai Hasyim dengan tegas melarang warganya untuk tidak terpengaruh apalagi mengikuti aliran Syiah Zaidiyah. Padahal, Syiah Zaidiyah tergolong aliran yang relatif ringan kesalahannya, yaitu mereka berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib RA lebih utama ketimbang Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA.”

Memang benar bahwa Mbah Hasyim menyatakan bahwa mazhab Zaidiyah dan Imamiyah termasuk ahli bid’ah. Termaktub dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasiy (yang dalam kompilasi Irsyad as-Sari oleh [Allahu yarham] Gus Ishom Hadziq digabung dengan at-Tibyan) di bab Risalah fi Ta’akkud al-Akhdzi bi Madzhahib al-A’immah al-Arba’ah halaman 29, Mbah Hasyim menulis:

وإذا تعين الاعتماد على أقاويل السلف فلا بد من أن تكون أقاويلهم التي يعتمد عليه مروية بالإسناد الصحيح أو مدونة في كتب مشهورة … وليس مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا هذه المذاهب الأربعة , اللهم إلا مذهب الإمامية والزيدية, وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على أقاويلهم.

Namun demikian, bahwa Mbah Hasyim menyatakan bahwa Syiah Zaidiyah adalah ahlul-bid’ah (apalagi di artikel itu, bagian kalimat tersebut di-highlight di bagian atas artikel) mestinya disertai dengan keterangan lebih lanjut. Ini agar lebih proporsional dalam pemaparan mengenai sebab pernyataan “ahli bid’ah” itu. Warga NU tentu tahu, kitab-kitab Zaidiyah banyak dikaji di kalangan Nahdliyin. Sebutlah di antaranya, Subulus-Salam dan Nailul-Awthar. Bahkan kitab-kitab tafsir kontemporer, tidak sedikit yang menukil az-Zamakhsyari, misalnya, yang berasal dari kelompok Mu’tazilah.

Sepemahaman saya, Mbah Hasyim menyatakan mazhab Syiah Zaidiyah tidak boleh diikuti karena kitab mereka tidak terkodifikasikan dengan baik sehingga hilanglah kepercayaan akan isi kandungan ajaranya. Ini dikuatkan dengan dua paragraf di akhir bab tentang keharusan berpegangan pada 4 mazhab itu. Mbah Hasyim menyatakan bahwa mazhab-mazhab yang diikuti tidak terbatas pada empat saja. Ada mazhab lain, seperti mazhab Dua Sufyan (at-Tsauri dan ibn ‘Uyainah), Ishaq ibn Rahawaih, Awza’i, bahkan Dawud az-Zhahiri. Namun, tersebab hilangnya kitab-kitab mereka dan tiadanya penerus mazhab mereka, maka tidak boleh mengikuti mazhab kecuali mazhab yang empat. Sebab, hanya mazhab empat yang terjamin sanadnya dan tidak mengalami distori (tahrif).

Terkait Imam Zaid ibn ‘Ali Zainal’Abidin, Mbah Hasyim menulis:

“… ولذا قال غير واحد في الإمام زيد بن علي رحمه الله: إنه إمام جليل القدر عالى الذكر, وإنما ارتفعت الثقة بمذهبه لعدم اعتناء أصحابه بالأسانيد …”

[ 2 ]

Dipaparkan dalam artikel Kesesatan Agama Menurut KH Hasyim Asy’ari, bahwa Mbah Hasyim memerangi banyak model kesesatan yang mesti diwaspadai umat Islam di Jawa. Antara lain, kebatinan, paham ibahiyah, paham hulul-ittihad alias manunggaling kawula gusti, aliran tasawuf yang menyimpang (mutashawwifah), dan Syiah Rafidhah.

Memang benar! Dan warga NU harus fair menyatakan, meski sebagian Nahdliyin merasa berat hati, bahwa Mbah Hasyim menilai sesat Syiah-Rafidhah. Mbah Hasyim menulis:

“ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما, ويكرهون الصحابة رضي الله عنهم, ويبالغون هوى سيدنا علي وأهل بيته رضوان الله عليهم أجمعين, قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم يرتقي إلى الكفر والزندقة أعاذنا الله المسلمين منها…”

Namun demikian, yang bagi saya sangat janggal adalah, dalam pemaparan tentang yang “sesat” dalam artikel Kesesatan Agama Menurut KH Hasyim Asy’ari itu tidak dipaparkan kelompok pertama yang juga diwanti-wanti Mbah Hasyim agar umat Islam menjauhinya. Kelompok ini bahkan disebut terlebih dahulu sebelum Syiah-Rafidhah.

Di dalam Risalah Ahl as-Sunnah wal-Jama’ah, pada bab Fi Bayani Tamassuk Ahli Jawa bi Madzhab Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, halaman 9-10, Mbah Hasyim jelas menyebutkan bahwa di antara kelompok yang mesti dijauhi adalah para pengikut pandangan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, Ahmad ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, dan Ibn ‘Abd al-Hadi. Mbah Hasyim menulis:

“ومنهم فرقة يتبعون رأي محمد عبده ورشيد رضا ويأخذون من بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدي وأحمد بن تيمية وتلميذيه ابن القيم وابن عبد الهادى, فحرموا ما أجمع المسلمون على ندبه وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم وخالفوهم فيما ذكر وغيره, قال ابن تيمية في فتاويه: وإذا سافر لاعتقاده أنها أي زيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم طاعة, كان ذلك محرما بإجماع المسلمين…”

Kejanggalan saya adalah, mengapa Syiah-Rafidhah dll disebut sebagai sesat tanpa mengetengahkan juga “kesesatan” para perintis “salafisme” itu? Padahal jelas, yang dibid’ahkan oleh kelompok Salafi itulah justru ciri khas Nahdliyin! Apakah karena keterangan itu tak berkesesuaian dengan ideologi dari para penulis INSISTS sendiri, sebab menyinggung Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan Ibn Taimiyyah? Wallahu a’lam. Mbah Hasyim menyebut para kaum “Salafi” itu justru sebagai ahli bid’ah, perusak agama, dan penebar permusuhan (ilqa’ al-‘adawah).

Yang mengherankan adalah justru di artikel berjudul Toleransi Sang Kiai oleh seorang magister UMS, Surakarta, tertulis, “Meski ketika di Mekkah ia menerima ide-ide Muhammad Abduh agar umat Islam kembali kepada Alquran dan Sunnah namun ia tidak sejalan dengan pikiran untuk melepaskan diri dari keterikatan mazhab…”

Yang cukup mengherankan, apakah di Mekkah, Mbah Hasyim menerima ide-ide Muhammad Abduh? Padahal cukup jelas apa yang beliau tulis mengenai Muhammad Abduh, sebagaimana terpaparkan di atas.

[ 3 ]

Mengenai Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah, saya pribadi mengikuti Syaikh Wahbah az-Zuhaliy yang menyatakan dalam al-Fiqh al-Islamiy-nya bahwa keduanya adalah mazhab yang sah di dalam Islam. Selain 4 mazhab yang utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), Wahbah az-Zuhaili juga mengakui 4 mazhab lainnya, yakni: Zhahiri (Dawud ibn ‘Ali al-Ashfihani), Syiah-Zaidiyah (Zaid ibn Ali Zainal Abidin), Syiah-Imamiyah (Muhammad ibn al-Hasan al-Qummi), dan Ibadhi-Khawarij (Abdullah ibn Ibadh at-Tamimi).

Berikut komentar dari Syaikh Wahbah tentang fiqh mazhab Syiah-Imamiyah:

“وفقه الإمامية, وإن كان أقرب إلى المذهب الشافعي, فهو لا يختلف في الأمور المشهورة عن فقه أهل السنة إلا في سبع عشرة مسألة تقريبا, من أهمها إباحة نكاح المتعة. فاختلافهم لا يزيد عن اختلاف المذاهب الفقهية كالحنفية والشافعية مثلا. وينتشر هذا المذهب إلى الآن في إيران والعراق. والحقيقة أن اختلافهم مع أهل السنة لا يرجع إلى العقيدة أو إلى الفقه, وإنما يرجع لناحية الحكومة والإمامة ”

“Fiqh Imamiyah, meski lebih dekat ke mazhab Syafi’i, ia tak berbeda dengan fiqh Ahlus-Sunnah dalam persoalan yang masyhur kecuali kira-kira terkait 17 masalah. Yang paling penting (dari perbedaan itu) adalah pembolehan nikah mut’ah. Perbedaan Syiah Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tak lebih sebagaimana perbedaan mazhab-mazhab fiqh lainnya, seperti Hanafi dengan Syafi’i. Mazhab Imamiyah ini sampai sekarang menyebar di Iran dan Irak. Secara substantif, perbedaan Syiah-Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tidak merujuk ke soal akidah atau fiqh, melainkan hanya pada aspek pemerintahan dan imamah.”

Di samping itu, masa hidup Mbah Hasyim sudah beda dengan kondisi sekarang, saat kontak antara dunia Sunni dan Syiah makin massif dan intensif. Bahkan konflik Sunni-Syiah yang terjadi di luar negeri seolah tak berjarak, dan terasa gaungnya sampai negeri ini. Lagipula, banyak ulama besar dunia masa kini yang mengupayakan adanya “pendekatan antara mazhab” (at-taqrib baina al-madzahib) antara Sunni dengan Syiah.

[ 4 ]

Sesungguhnya, bila Anda membaca kitab-kitab karya Mbah Hasyim, Anda akan mendapati bahwa beliau adalah ulama yang tegas: banyak ajaran-ajaran yang ditulisnya boleh jadi terasa “keras” untuk zaman ini. Mbah Hasyim memang ahli hadits, sehingga sangat mendasarkan setiap amaliyah-ibadah kepada ada-tiadanya nash.

Warga NU harus fair, bahwa Mbah Hasyim melarang peringatan haul (pernah dengar ada haul Mbah Hasyim?). Mbah Hasyim melarang haul terutama karena ada unsur campur-baurnya lelaki-perempuan tanpa dibatasi. Mbah Hasyim juga mengharamkan kentongan, karena itu mengandung unsur menyerupai (tasyabbuh) terhadap kaum Nasrani, sampai-sampai beliau menulis khusus tentang ini dengan kitab berjudul al-Jasus fi Ahkam an-Naqus.

‘Ala kulli hal, jika setiap pandangan-pandangan yang muncul dari dialektika di tubuh NU harus dihantamkan ke kitab Mbah Hasyim, atau Qanun Asasi itu, menurut saya, NU akan semakin mengecil, sebab banyak Nahdliyin yang tak lagi patut dianggap NU karena bertentangan dengan Qanun Asasi. NU bisa besar seperti saat ini karena ia bisa menampung banyak orang dengan berbagai kecenderungan pemikiran. Oleh karena itu, kontekstualisasi terhadap perubahan zaman perlu kiranya menjadi salah satu opsi yang layak diupayakan.

Wallahu waliyyut-taufiq.

~ Kotagede, 21/06/2013

Orang Awam Wajib Taqlid kepada Ulama

Tulisan ini adalah salah satu yang saya dokumentasikan saat me review ulang dan mencari tahu kembali bab ketaatan atau taklid kepada Ulama. Salah satu logika yang dipakai Nahdliyin dalam penerapan taklid kepada Ulama silahkan dinikmati sebagai bahan pembanding penetahuan yang telah ada.

***

sumber

***

Kira-kira apa yang dipahami seorang yang awam tatkala membaca terjemahan ayat-ayat berikut, khususnya pada potongan ayat berikut ini :
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah. Padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” ” (QS. Al An’am: 114).

Bisa jadi seorang awam yang membaca beberapa ayat di atas akan menyimpulkan bahwa, dasar hukum yang berlaku dalam Islam hanyalah Al-Quran semata sebagaimana pemahaman orang-orang yang mengingkari sunnah Nabi SAW.
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik.  (QS. An Nahl: 67).

Bisa jadi ia juga akan menyimpulkan bahwa khamer atau minuman yang memambukkan hukumnya adalah halal bahkan merupakan salah satu rezeki yang baik dari Allah.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda (QS. Ali Imron: 130).

Bisa juga dia akan menyimpulkan bahwa memakan harta yang dihasilkan dari proses yang riba tidaklah haram jika sedikit dan tidak berlipat ganda. Padahal, bagi yang sedikit banyak membaca pendapat-pendapat ulama terkait ayat-ayat di atas, dapat memastikan bahwa kesimpulan-kesimpulan di atas adalah keliru.

A. Instrumen Dalam Memahami Al-Quran
Dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an, dibutuhkan banyak instrumen, yaitu berbagai ilmu penunjang. Maksudnya agar kita mendapatkan pemahaman yang benar, sebagaimana diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di antaranya adalah kaedah-kaedah tafsir Al-Quran, asbabunnuzul, ilmu tentang as-saabiq dan al-laahiq, an-nasikh dan al-mansukh, dalalah al-alfadz, al-manthuqdan al-mafhum, al-‘am dan al-khas, al-muqayyad dan al-muthlaq, musthalah al-hadits dan lainnya.

Sebagai satu contoh, terkait ayat ke-114 dari surat Al-An’am. Ayat ini seringkali dipakai (dicomot) oleh orang-orang yang mengingkari sunnah Nabi SAW untuk melegitimasi keyakinan mereka terkait sumber hukum dalam Islam. Dimana mereka mengatakan bahwa hanya Al-Quran sajalah yang dapat menjadi sumber atau standar hukum dalam Islam. Sedangkan sunnah dan sumber lainnya tidak diperlukan. Alasannya, karena Al-Quran dianggap telah merinci (mufashshal) semua masalah dan tidak memerlukan rincian lainnya.
Padahal jika mereka ingin jujur dan konsisten dalam keyakinannya, mereka pasti akan pula menjadikan Sunnah Nabi sebagai dasar hukum yang juga dilegitimasi oleh Allah SWT dalam banyak ayat Al Qur’an, sebagaimana pula pada ijma’ dan qiyas.

Atau jika mereka menggunakan konsep as-saabiq dan al-laahiq dalam membaca ayat di atas, pastilah kesimpulan mereka bahwa Al Qur’an telah merinci setiap masalah agama bahkan dunia akan terbantahkan dengan sendirinya.
Allah SWT berfirman:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.
Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu  (QS. Al An’am: 111-114).

Berdasarkan konsep as-saabiq (membaca korelasi sebuah ayat dengan ayat sebelumnya), kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Al-Quran yang Allah turunkan dengan terperinci adalah terkait dengan masalah ukhrawi atau masalah ghaib. Sedangkan untuk masalah-masalah hukum seperti shalat, zakat, haji dan lainnya, Allah tidak menurunkan penjelasannya secara rinci. Allah menugaskan rasul-Nya untuk menjelaskan rincian hukum-hukum tersebut yang selanjutnya diteruskan oleh ulama-ulama yang mewarisi ilmu para rasul.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An Nahl: 44).
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An Nahl: 64).

Di samping itu, tidaklah mungkin terjadi kontradiksi/pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya, sebagaimana ketetapan Allah SWT, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisa: 82).

Dalam konteks memahami nash-nash Al-Quran dan Al-Hadits inilah, akhirnya para ulama menetapkan bahwa wajib seorang yang awam, -yaitu orang-orang yang tidak memiliki kompetensi sebagai mujtahid serta tidak memiliki ilmu-ilmu atau perangkat-perangkat untuk berijtihad-, untuk bertanya dan mengikuti pendapat-pendapat ulama yang mumpuni dan diakui. Atau dalam literatur fiqih disebut dengan taqlid. [1]

Bukankah dalam perkara dunia saja hal ini merupakan suatu yang lumrah terjadi. Seorang yang sakit umumnya tanpa berpikir panjang akan menuruti saran-saran dokter untuk kesembuhannya. Hal yang sama pun berlaku dalam masalah agama, bahkan dirasa lebih urgen, sebab dimensi agama mencakup dunia dan akhirat.

Yang tentunya dibutuhkan kehati-hatian yang lebih agar amalan yang dilakukan sesuai dengan koridor yang diinginkan oleh Allah dan Rasulnya.

B. Pengertian Taqlid
Secara bahasa kata taqlid (التَّقْلِيدُ) merupakan mashdar dari kata qallada (قَلَّدَ) yang berarti mengikatkan sesuatu dileher seseorang. [2].

Sedangkan secara istilah, setidaknya terdapat dua definisi berbeda terkait pengertian taqlid.
1. Pengertian Pertama
Definisi taqlid yang diambil oleh mayoritas ulama ushul fiqih, yaitu:
قَبُول قَوْل الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ حُجَّةٍ
“Menerima/mengikuti perkataan orang lain yang (perkataannya) tidak bersifat hujjah.”

Seperti seorang yang awam mengikuti perkataan seorang mujtahid dalam beragama. Sedangkan jika perkataan yang diambil merupakan perkataan Rasulullah SAW atau perkataan ulama yang telah menjadi ijma’ maka ia bukanlah sebuah taqlid. Sebab perkataan-perkataan tersebut merupakan hujjah.[3]

2. Pengertian Kedua
الأْخْذُ بِقَوْل الْغَيْرِ مَعَ عدم مَعْرِفَةِ دَلِيلِهِ
Mengambil perkataan/pendapat orang lain tanpa mengetahui dasar/dalil dari perkataan tersebut.”

Seperti layaknya seorang awam atau anak kecil yang baru belajar tata cara shalat tanpa ia mengetahui dalil-dalil dari amalan yang ia lakukan.

Definisi ini dinyatakan oleh beberapa ulama seperti imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dan imam Asy Syawkani untuk menetapkan tingkatan ittiba’ antara tingkatan ijtihad dan taqlid. Di mana mereka mengatakan bahwa ittiba’ adalah mengambil pendapat orang lain sembari ia tahu dalil yang mendasari pendapat ini.[4]

Hanya saja menurut penulis definisi yang kedua ini mengandung kelemahan dari beberapa sisi:
Pertama: Pendapat ini diambil oleh minoritas ulama, bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa telah terjadi ijma’ di antara ulama bahwa manusia terbagi dua; mujtahid dan muqallid. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Rusyd, Abu Hamid Al Ghazali dan imam Al Harawi.

Kedua: Terlepas seseorang mengatahui dalil yang mendasari pendapat seorang mujtahid atau tidak, maka ia pada ada dasarnya tetaplah muqallid (bertaqlid) kepada mujtahid tersebut.
Sebab meskipun ia tahu dalil pendapatnya, tetaplah ia masih tidak mampu untuk menetapkan sebuah dalil atas sebuah masalah yang dihadapi kecuali jika yang bersangkutan telah mencapai derajat mujtahid yang dibuktikan dengan pengetahuannya yang mendalam terhadap perangkat-perangkat ijtihad sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Al Ghazali ketika menjelaskan tentang syarat-syarat mujtahid :
“Harus mengetahui lengkap dalil-dalil syar’i (madarik asy syar’) yaitu dengan mengetahui dalil-dalil yang membuahkan hukum dan mengetahui tata cara membuahkannya.

Adapun dalil yang membuahkan hukum ada empat: (1) Al Qur’an (2) As Sunnah (3) Al Ijma’ (4) Akal. Sedangkan tata cara membuahkannya dengan empat ilmu, dua ilmu pokok yaitu (1) ilmu tentang cara menetapkan dalil atas sebuah masalah (ushul fiqih) (2) ilmu bahasa Arab dan nahwu, dan dua ilmu penyempurna yaitu (1) nasikh mansukh (2) ilmu musthalah hadits.” [5]

Ketiga: Atau bisa pula dua definisi di atas disingkronkan (al jam’u wa at tawfiq) dengan menyimpulkan bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai mujtahid pada masalah yang ia dapat berijtihad di dalamnya dan ia disebut pula sebagai seorang muqallid dalam masalah yang lain. Dan ini adalah maksud dari ucapan ulama, “Sesungguhnya baik ijtihad maupun taqlid bisa saja terbagi-bagi”. [6]

Keempat: Selain itu, jika merujuk kepada definisi pertama bahwa taqlid adalah mengikuti ucapan ulama yang pada dasarnya bukan merupakan hujjah, akan tetapi kita tahu bahwa ulama yang boleh diikuti ucapannya adalah ulama yang mempunyai kapabilitas berijtihad dan kemampuan memamahi dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah secara luas, seperti empat imam mazhab; Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Dan kita ber-husnu dzan (berprasangka baik) kepada mereka bahwa pastilah pendapat-pendapat mereka didasari atas sebuah dalil.

Syaikh Waliyullah Ad Dahlawi berkata, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya mengambil mazhab 4 (dalam menjalankan agama) adalah maslahat yang besar dan berpaling darinya secara keseluruhan adalah bencana yang besar.” [7]
أن هذه المذاهب الأربعة المدونة قد اجتمعت الأمة أو من يعتد به منها على جواز تقليدها إلى يومنا هذا وفي ذلك من المصالح ما لا يخفى لا سيما في هذه الأيام التي قصرت فيها الهمم وأشربت النفوس الهوى وأعجب كل ذي رأي برأيه
Sesungguhnya empat mazhab yang telah terkodifikasi ini telah disepakati oleh umat akan bolehnya bertaqlid kepada mereka hingga hari ini. sebab di dalamnya terdapat kemaslahatan yang tidak diragukan lagi, apalagi di saat banyak orang kehilangan semangat (dalam menuntut ilmu), takluknya jiwa oleh hawa nafsu, dan setiap diri merasa ‘ujub (benar sendiri) dengan pendapatnya.”

C. Dalil-dalil Wajibnya Bertaqlid kepada Ulama
Dalam kitabnya, Alla Mazhabiyyah, DR. Said Ramadhan Al Buthi menyebutkan sejumlah dalil atas wajibnya seorang yang awam bertaqlid kepada pendapat ulama yang mumpuni.
1. Firman Allah SWT:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43).

Dan sudah menjadi konsensus ulama bahwa ayat tersebut memerintahkan bagi orang yang tidak mengetahui hukum dan dalil sebuah masalah untuk ittiba’ (taqlid) kepada orang yang tahu. Dan mayoritas ulama ushul fiqih berpendapat bahwa ayat tersebut adalah dalil pokok pertama tentang kewajiban orang awam untuk mengikuti orang alim yang mujtahid.

2.  Ijma’ Ulama
Sudah menjadi kesepakatan dan tanpa ada khilaf, bahwa shahabat-shahabat Rasulullah SAW berbeda-beda taraf tingkatan keilmuannya, dan tidak semuanya ahli fatwa (mujtahid).
Dan sudah jelas bahwa agama diambil dari semua shahabat, tetapi mereka ada yang mempunyai kapasitas berijtihad dan itu relatif sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah semua shahabat, serta di antaranya juga ada mustafti atau muqallid dan shahabat yang termasuk golongan ini berjumlah sangat banyak.
Dan seorang shahabat yang menjadi mufti tidak setiap menyebutkan hukum selalu memaparkan dalilnya kepada si penanya.
Di samping itu, Rasulullah SAW juga mengutus seorang faqih dari kalangan shahabat ke pelbagai daerah yang penduduknya tidak tahu menahu tentang hukum Islam kecuali akidah Islam dan keyakinan rukun-rukunnya saja. Dan kemudian mereka mengikuti apa saja yang difatwakan oleh shahabat tersebut dan mendorong mereka mengikutinya dalam praktik amaliyyah, ibadah, muamalah dan macam ragam urusan halal dan haram.
Imam Ghazali dalam Al-Mustashfa bab taqlid dan meminta fatwa, mengambil dalil akan wajibnya orang awam bertaqlid, ia berkata, “Aku mengambil dalil atas hal tersebut dengan dua jalan, salah satunya adalah ijma’ shahabat. Mereka memberikan fatwa kepada orang awam dan tidak memerintahkan mereka supaya menggapai derajat ijtihad. Dan hal itu sudah maklum secara pasti serta mutawatir dari ulama dan yang awam dari mereka.”[8]

Al Amidi dalam Al Ihkam berkata, “Adapun dalil ijma’ nya, orang-orang awam di masa shahabat dan tabi’in, sebelum munculnya orang-orang yang menyelisihi, selalu meminta fatwa kepada para mujtahid dan mengikutinya dalam kaitan hukum-hukum syariat. Ulama yang mujtahid tersebut bergegas menjawab hukum tanpa menyebutkan dalilnya, dan faktanya shahabat tidak ingkar dan tidak melarang. Hal itu menjadi ijma’ akan bolehnya orang awam mengikuti mujtahid secara mutlak.” (Al Ihkam fi Ushul Al Ahkam, 2/171).

3. Dalil Akal
Orang yang bukan ahli ijtihad apabila menemui suatu masalah fiqih, pilihannya hanya ada dua; antara berfikir dan berijtihad sendiri sembari mencari dalil yang dapat menjawabnya atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid. Jika memilih yang awal, maka itu sangat tidak mungkin karena ia harus menggunakan semua waktunya untuk mencari, berfikir dan berijtihad dengan dalil yang ada untuk menjawab masalahnya, dan mempelajari perangkat-perangkat ijtihad yang akan memakan waktu lama, sehingga pekerjaan dan profesi maisyah pastilah akan terbengkalai. Klimaksnya, dunia ini akan rusak. Dan pilihan terakhirlah yang ditempuh, yaitu taqlid.[9]
Sedangkan terkait perkataan emapat imam mazhab yang melarang orang lain bertaqlid kepada mereka adalah sebagaimana yang diterangkan oleh ulama-ulama bahwa khitab larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang tidak mampu berijtihad dari Al Qur’an dan Al Hadits, dan bukan bagi yang tidak mampu, karena bagi mereka wajib bertaqlid agar tidak tersesat dalam menjalankan agama. [10]
Wallahua’lam bis asshawab

Oleh : Isnan Anshory, MA.

Catatan Kaki:
[1] Lihat: Ibnu Rusyd Al Hafiid, Adh Dharuri fie Ushul Al Fiqh 1/94, Abu Hamid Al Ghazali, Al Mustahasfa, h. 382-383.
[2] Raudhah An Nadzir 2/449
[3] Syarh Musallam Ats Tsubut 2/400, Raudhah An Nadzir 2/450
[4] I’lam Al Muwaqqi’in 4/192, 236
[5] Al Musthashfa 1/342-343.
[6] Said Ramadhan Al Buthi, Alla Mazhabiyyah Akhtar Bid’atin Tuhaddid Asy Syariah Al Islamiyyah
[7] ‘Iqd Al Jid fi Ahkam Al Ijtihad wa At Taqlid h. 20). Dan beliau berkata dalam kitabnya, Al Inshaf fi Bayan Asbab Al Ikhtilaf, (h. 97
[8] Al Mustashfa 2/385
[9] Alla Mazhabiyyah: Akhar bid’atin Tuhaddid Asy Syariah Al Islamiyyah, h. 70-73, Takhrij Ahadits Al Luma’ h. 348.
[10] Al-Mizan Al-Kubra 1/62
(tulisan ini juga dimuat di www.rumahfiqih.com)